-->

Tiga Karya AA Navis: Persoalan Religiositas Kesusastraan Indonesia


Judul di atas pastilah membawa pikiran kita kepada persoalan yang mendasar, yaitu persoalan keagamaan, atau lebih tepatnya keyakinan atau kepercayaan (iman). Seorang Muslim memiliki keyakinan kepada Islam, seorang Nasrani memiliki keyakinan kepada Kristen, begitu seterusnya. Kedua istilah ini, antara religiositas dan agama, agaknya tidaklah sama tetapi tidak saling bertentangan, bahkan sangat berkaitan erat. Mangunwijaya menyatakan bahwa persoalan agama lebih mengarah pada kelembagaan tertentu, atau lebih tepatnya secara formal seseorang menganut agama tertentu seperti Islam, Katholik, Budha, Hindu, dan sebagainya. 
       Namun, tidak demikian dengan apa yang disebut religiositas. Guna meng-Agung-kan Tuhan (masing-masing, yang secara formalitas), ia tidak pandang bulu atau terbatas pada Tuhan yang ia agungkan, sebab persoalan kedua ini lebih dekat dengan intimitas jiwa. Jadi hal ini lebih mempersoalkan sesuatu yang lebih “dalam” pada lubuk hati seseorang. Sebagai contoh, misalnya, seseorang yang telah berbuat baik dan rendah hati dengan tidak memandang ia mempunyai keyakinan agama apa (tertentu), niscaya perbuatan ini sudah dapat dianggap sebagai perbuatan yang sesuai dengan prinsip religositas. Pendek kata, orang yang demikian dapat dianggap sebagai orang yang berada dalam kategori religiositas.
            Menurut Mangunwijaya, persoalan yang bersangkut-paut dengan kelembagaan disebut formalitas hukum agama, sedangkan yang lebih dekat dengan intimitas jiwa, kedalaman hati nurani, disebut religiositas yang otentik. Dan persoalannya sekarang, bagaimana persoalan demikian digarap oleh para pengarang Indonesia dalam dunia sastra? Di antara sekian banyak sastrawan Indonesia, yang pertama kali mempersoalkannya ialah Ali Akbar Navis (AA Navis) dalam ketiga karyanya, yakni cerpen "Robohnya Surau Kami", dan "Datangnya dan Perginya" (1956) dan novel Kemarau (1967). Ketiga karya ini, bila dilihat tema dan warnanya memiliki persamaan, yaitu warna keagamaan. Hanya saja, yang membedakannya ialah sikap pengarang terhadap masalah yang dilontarkan.
            Dalam "Robohnya Surau Kami" Navis menampilkan tokoh seorang penjaga surau, Kakek Garin, yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Tuhan. Meskipun ia taat beribadah, beriman kuat, tetapi ternyata ia mati bunuh diri akibat terpengaruh hasutan Ajo Sidi, seorang pembual ulung. Persoalannya demikian, pada suatu hari, Kakek Garin ditemui oleh Ajo Sidi. Ajo Sidi bercerita bahwa ada seorang haji, bernama Haji Saleh. Karena dalam hidupnya Haji Saleh hanya mencurahkan ibadah saja, tanpa mengimbanginya dengan perbuatan-perbuatan duniawiyah, akhirnya Haji Saleh tetap dimasukkan neraka oleh Malaikat Penimbang Pahala dan Dosa. Karena Kakek Garin tidak kuat menerima kenyataan sebagaimana diceritakan oleh Ajo Sidi itu, akhirnya iman Kakek Garin menjadi goyah sehingga mengantarkannya untuk bunuh diri dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur.
            Dalam cerpen ini Navis menyelesaikan cerita dengan cara mengalahkan seseorang yang hanya mementingkan formalitas hukum agama tanpa diimbangi dengan sikap religiositas yang otentik. Dilihat sepintas memang Navis memilih alternatif keduniawian yang dapat menghancurkan keimanan seseorang. Namun, bila ditinjau secara lebih dalam, Navis sesungguhnya mempunyai tujuan tertentu, yaitu untuk menyadarkan seseorang yang hanya mementingkan akhirati saja. Jadi, jelasnya, keimanan seseorang harus diimbangi dengan perbuatan-perbuatan. Ibaratnya, perjuangan dan doa harus berjalan bersama-sama.
            Berkenaan dengan masalah pemilihan atau sikap Navis dalam cerpen tersebut, yang lebih cenderung memenangkan perihal duniawiyah, juga terungkap dalam cerpen "Datangnya dan Perginya". Dalam cerpen ini Navis juga memenangkan persoalan dunia, atau oleh Umar Junus dikatakan bahwa Navis memilih alternatif kemanusiaan daripada keagamaan. Dalam cerpen ini diceritakan bahwa ada seseorang yang karena ditinggal mati istrinya, ia mengalami duka yang dalam. Kini hidupnya hanya berdua dengan anaknya, Masri. Dengan maksud untuk mengobati luka hati tersebut, ia kawin lagi. Oleh karena perkawinan berikutnya juga tidak membawa kebahagiaan, tak lama kemudian cerai juga. Setelah beberapa kali kawin cerai, akhirnya bosan, dan mengalihkan gelimang hidupnya ke dunia pelacuran. Oleh karena suatu hari perbuatan sang ayah ini tertangkap basah oleh anaknya (Masri), lalu terjadilah pertikaian yang diteruskan dengan kepergian Masri. Karena itulah, kini hidupnya tinggal sendirian.
            Dalam kesendiriannya itulah, setelah beberapa tahun, ia sadar bahwa perbuatannya itu dosa. Namun, dosa-dosa sang ayah ini tidak berhenti sampai di sini saja. Sebab ia menghadapi persoalan yang lebih besar. Masri, anak yang dulu pergi, ternyata kawin dengan Arni, yang ternyata Arni adalah juga anaknya sendiri lain ibu, dari istri yang pernah diceraikannya. Cerpen ini diakhiri dengan kepergian sang Ayah, karena maksud untuk memberitahukan dosa perkawinan saudara kedua anaknya itu gagal.
            Kegagalan sang Ayah itu barangkali telah disengaja oleh Navis sebab bila persoalan perkawinan saudara (se-ayah) itu diberitahukan kepada mereka, mereka tentu akan cerai dan hancurlah hidupnya. Meskipun, dosa-dosa yang ada pada diri sang Ayah tetap membebani dirinya. Maka, dapat disimpulkan bahwa sikap Navis dalam cerpen "Datangnya dan Perginya" lebih “mengedepankan” persoalan kemanusiaan daripada keagamaan. Lebih jelasnya, Navis cenderung mempertahankan sikap religiositasnya daripada sikap formalitas hukum agama. Mungkin hal semacam ini cukup beralasan sebab agama sendiri tidak menghendaki timbulnya kehancuran.
            Barangkali bukanlah suatu kebetulan, persoalan yang terdapat dalam cerpen tersebut sama persis dengan persoalan yang terdapat dalam novel Kemarau, yang kira-kira berselang waktu 10 tahun (1956-1967). Yang membedakan kedua karya tersebut (cerpen "Datangnya dan Perginya" dan novel Kemarau) ialah sikap Navis yang diungkapkan di bagian akhir cerita. Dalam cerpen “Datang dan Perginya” Navis menyelesaikan ceritanya dengan kegagalan sang Ayah untuk membongkar dosa yang diderita oleh kedua anaknya, Masri dan Arni. Jadi, persoalan dosa dalam cerita pertana masih tetap membelenggu diri dan kedua anaknya, tetapi di sudut lain, perkawinan antara Masri dan Arni tetap berbahagia dalam ketidaktahuannya.
            Sementara dalam novel Kemarau Navis menyelesaikan ceritanya dengan cara sang Ayah berhasil membongkar rahasia perkawinan saudara kedua anaknya itu. Meskipun, dalam novel ini, keberhasilan sang Ayah dengan tidak disengaja sebab ketika ia berdebat sengit dengan jandanya, Iyah, ia dipukul kepalanya hingga pingsan. Karena pingsan inilah ia tidak bisa segera pergi (yang mungkin dimaksudkan oleh jandanya, seperti dalam cerita pendeknya), maka pada akhirnya kedua anaknya itu tahu. Di sinilah letak kunci pembongkaran rahasia gejolak keluarga itu. Setelah rahasia tersebut semuanya terbongkar, akhirnya, seperti dikisahkan dalam novel ini, Masri-Arni bercerai.
            Kendati demikian, meskipun perkawinan Masri-Arni mengalami kehancuran, yang jelas dosa-dosa yang diderita sang Ayah dan kedua anaknya sudah terasa tidak membelenggu lagi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sikap Navis dalam novel ini lebih tidak memihak kepada masalah “keagamaan” atau “kemanusiaan”, tetapi Navis cenderung menyeimbangkan antara kedua sikap itu. Baik masalah kemanusiaan atau religiositas maupun formalitas hukum agama sama-sama dijunjung seiring dan sejalan. Jadi tidak seperti apa yang dikatakan Umar Junus di Horison, Juni 1972, bahwa Navis lebih cenderung memilih alternatif keagamaan.
            Hal yang dikemukakan itu bukan tidak beralasan sebab hal tersebut cukup mempunyai bukti yang kuat. Ternyata Navis dalam novel ini bersikap seimbang. Ia tetap menjunjung formalitas hukum agama dengan disertai sikap religiositas yang otentik. Pasalnya demikian, ternyata perceraian Masri-Arni tidak hancur, tetapi perceraian mereka dilaksanakan atas kesadaran mereka masing-masing. Atas kesadaran itu pulalah akhirnya mereka kawin lagi dengan orang lain dan berbahagia. Dengan begitu, dosa-dosa yang diderita terasa sudah hilang dan kebahagiaan pun menyertai mereka bersama, baik sang Ayah, ibu, dan kedua anaknya itu.
            Demikian selintas ketiga karya A.A. Navis yang mempunyai warna khas, yaitu warna yang tidak hanya terikat oleh formalitas keagamaan tetapi juga disertai dengan sikap religiositas yang otentik. Keseimbangan kedua hal ini tampak jelas dalam karyanya yang terakhir, yaitu novel Kemarau (1967). Dan keseimbangan ini belum begitu jelas dikedepankan oleh Navis dalam kedua cerpennya terdahulu sebab di dalam kedua cerpen itu masih ada kecenderungan untuk memberikan alternatif yang sama-sama berat.
            Kalau dilihat secara intertekstual, agaknya kedua cerpennya itu menjadi dasar, latar, atau hipogram novel Kemarau yang dicipta dengan selang waktu 10 tahun. Dan, novel yang dicipta kemudian itu pun agaknya merupakan revisi atas pemikirannya yang dilontarkan dalam cerpen terdahulunya. Begitu juga, kalau diteliti dengan cermat, kata-kata, bahasa, dan dialog yang terdapat dalam cerpen "Datangnya dan Perginya" terdapat pula dalam novelnya itu. Inilah suatu bukti kuat bahwa penciptaan novel itu tidak dapat dipisahkan dengan cerpen sebelumnya. Namun, apakah dalam kasus ini ada keseimbangan antara "religiositas otentik" dan "formalitas hukum agama", jawabnya adalah bergantung pada penilaian kita masing-masing.***                                         Kedaulatan Rakyat, 28 Juni 1987

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel