-->

Proses Kreatif Korrie Layun Rampan: Saya Yakin Mampu Menjadi Pujangga

             Seperti terbaca pada riwayat hidupnya, sebagai sastrawan Korrie Layun Rampan lahir dan besar di Yogya saat kuliah dan bergabung dengan PSK asuhan penyair Umbu Landu Paranggi. Tetapi, sebenarnya, kelahiran dan kebesaran Korrie di Yogya tidak terlepas dari sejarah panjang proses kreatifnya sejak kecil di tanah kelahirannya (Samarinda). Sebab, ia mengaku, pada usia 2,5--3 tahun telah lancar membaca, dan sejak usia 8 tahun telah mulai menulis. Pada saat itu ia menulis naskah drama dan naskah tulisan tangan itu hendak dipentaskan di dalam lamin. Namun, pentas itu akhirnya gagal karena orang-orang lamin bingung sebab yang dihadapi bukan upacara balian. Entah apa judul naskah drama itu kini ia sendiri lupa.
           Menulis naskah drama pada usia 8 tahun tidaklah mungkin dapat dilakukan jika ia bukan anak genius. Kegeniusan Korrie kecil terbukti SD hanya diselesaikan 4 tahun (September 1960--Juni 1964). Bahkan, seharusnya hanya 3 tahun, sebab saat kelas 5 ia diperkenankan ikut ujian akhir SD; anehnya, hanya ia yang lulus. Tapi, ia tidak memanfaatkan kelulusan itu, dan ia ingin mera-sakan duduk di kelas 6. Barangkali bukan suatu kebetulan, di rumah, sang ayah punya perpus-takaan kecil, dan itulah yang menunjang kelan-caran, kegemaran baca-tulis, dan kegeniusan Korrie. Dan pada saat kelas 5 dan 6 ia telah membaca sekian banyak buku sastra, antara lain karya Hamka, Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Suman Hs, HB Jassin, dll. Dan kebiasaan membaca itu pun diteruskan saat SMP (1964--1967) dan SMA (1968--1970), bukan hanya membaca karya sastra Indonesia tapi juga karya sastra dunia.
            Ada peristiwa unik yang membuat Korrie yakin akan dapat meraih cita-cita di masa depan. Ketika itu, saat kelas 5 SD (1963), oleh kakaknya ia diminta mengantarkan beberapa sapi (bersama orang upahannya) dengan kapal sungai kepada saudagar yang jauhnya lebih dari 500 kilometer. Membayangkan betapa jauh dan akan memakan waktu berhari-hari, ia membawa beberapa novel pinjaman, di antaranya Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya Hamka. Sambil berbaring di tengah rakit yang beratap kajang ia membaca novel itu dengan berlinang air mata karena ikut merasakan kesedihan tokohnya (Zainuddin dan Hayati). Tepat pada puncak kesedihan itulah, tiba-tiba rakit terguncang, kandang sapi hampir roboh, dan sapi-sapi pun hampir kabur akibat ditabrak kapal lain di sebuah teluk. Untunglah keadaan segera bisa diatasi. Meskipun pakaian basah kuyup, buku-bukunya bisa diselamatkan. Setelah berurusan dengan pihak kepolisian, rakit dapat dihanyutkan dan kapal dapat meneruskan perjalanan ke hulu.
            Peristiwa tragis dan juga berkat pemba-caan novel karya Hamka yang menyedihkan itulah yang, menurut Korrie, meyakinkan dirinya bahwa suatu saat nanti ia akan mampu menjadi pujangga. "Kalau Hamka bisa menulis hal-hal sensitif yang mampu menguras air mata, saya juga yakin kalau saya akan bisa menulis seperti dia," katanya. Dan keyakinan serta cita-cita itu kian hari kian menguat, lebih-lebih setelah hijrah ke Yogya dan bertemu dengan sejumlah sastrawan seperti Umbu, Emha, Linus, Ragil Suwarna, dll. "Setelah saya berteman dengan mereka, saya benar-benar memiliki keyakinan yang kuat dan teguh bahwa saya akan mampu menjadi pujangga," katanya dalam surat tanggal 21 April 2007.
            Berkat keteguhan dan keyakinan itulah, selanjutnya Korrie berjuang keras dengan cara terus menulis. Akibat didorong oleh keinginan yang kuat untuk meraih cita-cita, akhirnya dalam dirinya muncul suatu keputusan bahwa menulis harus menjadi sebuah kebiasaan, sekaligus menjadi sebuah tantangan dan pertaruhan. Sebab, kalau tidak ditantang dan dipertaruhkan, sebuah keyakinan tidaklah akan dapat diwujudkan. Karena itu, ia tak pernah jera walau tulisannya sering ditolak koran, majalah, atau penerbit; tak jera mengikuti lomba walau kalah; dan tak pernah jera pula walau karya-karyanya mungkin dinilai buruk oleh publik pembaca. Yang ada di dalam benaknya hanyalah menulis dan menulis karena menulis (puisi, prosa, esai) merupakan kebutuhan jiwa untuk berkomunikasi, bereksplorasi, dan berinovasi pikiran serta gagasan baik kepada diri sendiri maupun orang lain dengan cara yang sederhana, efisien, namun estetis.
            Menurut Korrie, bila ingin menjadi penga-rang (sastrawan), seseorang haruslah mempunyai nyali dan keberanian. Nyali dan keberanian itu bisa muncul dari dalam diri atau berkat dorongan orang lain. Dengan mencontohkan dirinya sendiri, pada awal terjun ke dunia kepengarangan, ia lebih banyak menulis puisi dan hanya berani mengi-rimkan ke media-media lokal. Sebab, ia merasa media nasional hanya untuk penulis yang sudah jadi atau mapan. Ketika di Yogya (1970-an), misalnya, pada awalnya ia hanya berani mengirim karyanya ke Pelopor, Eksponen, Suluh Marhaen, dan Mercu Suar. Tetapi, karena pada saat itu ada seorang kawan (Arwan Tuti Artha) menunjukkan amplop berisi sejumlah puisi yang diretour majalah Horison, ia kemudian merasa tertantang atas peristiwa pengembalian itu. Ia lalu segera menulis dan mengetik sejumlah puisi, sketsa, cerpen, esai, dll dan kemudian mengirimkannya ke berbagai media nasional.
            Dan tanpa diduga, beberapa puisinya kemudian muncul di Sinar Harapan, beberapa sketsa dan cerpennya nampang di Horison, kemudian di Kompas, dan beberapa resensi buku muncul di Budaya Jaya. Dan tanpa diduga pula, sejak saat itu, Korrie merasa dibaptis sebagai sastrawan. Lebih-lebih ia kemudian merasa terlegitimasi karena diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk mengikuti acara Pertemuan Sastrawan 1974 di TIM. Dengan begitu ia merasa benar-benar telah diakui sebagai sastrawan. Meskipun demikian, pengakuan semacam itu tak membuat dirinya tinggi hati, tetapi tetap bersemangat walau saat itu segebung sajak yang dikirimkan ke Budaya Jaya dikembalikan tanpa catatan apa-apa. Dan semangat Korrie tetap berkobar, terbukti karya puisi, cerpen, esai, resensi, dan kritiknya terus mengalir ke hampir seluruh media yang terbit di tanah air.
            Bahkan, tak hanya itu, ia juga terus melakukan uji-coba kemampuan. Kalau semula hanya menulis karangan pendek (puisi, cerpen, esai), lalu ia mencoba menulis karangan panjang. Contoh nyata adalah novel Upacara. Pada mulanya, bab pertama novel itu dimuat sebagai cerpen di Horison (1976). Berkat dorongan rekan Ragil Suwarna Pragolapati, cerpen itu layak dikembangkan menjadi novel. Bukan suatu kebe-tulan, saat itu (1976), DKJ sedang mengadakan sayembara mengarang roman. Karena itu, hanya dalam waktu seminggu (mengejar deadline), naskah novel Upacara selesai ditulis dan kemu-dian dikirimkan ke panitia. Dan tak diduga pula, uji kemampuan itu membuahkan hasil, terbukti novel itu dinyatakan sebagai pemenang utama (novel ini kemudian dimuat sebagai cerbung di harian Suara Karya, baru kemudian diterbitkan Pustaka Jaya pada 1978). Kenyataan tersebut membuat semangat juang pengarang muda itu kian membara, lebih-lebih --walau berselang lama (1981)-- segebung sajak (yang diberi judul Suara Kesunyian) yang semula dikembalikan oleh Budaya Jaya akhirnya --berkat bantuan Ajip Rosidi-- dapat diterbitkan.
            Karena itu, berkat semangatnya yang tak pernah padam, juga berkat keyakinannya untuk menjadi pujangga, walau kini sudah mencapai usia lebih dari setengah abad, ia tak mau berhenti berproses kreatif menulis. Dan itu sangat masuk akal karena, menurutnya, perjalanan kreatif seorang penulis tidak ditentukan oleh berapa panjang usianya, tetapi ditentukan oleh karya yang telah dan akan dihasilkannya. Selama tangan dan pikiran masih bisa bergerak, tulisan (karya) akan selalu mengalir darinya. Maka, walau sampai kini ia telah menulis lebih dari 334 buku (novel, cerpen, puisi, esai, resensi, dll), ia tetap akan terus berkarya. Dan di dalam berkarya ia tidak pandang bulu, tidak pilih-pilih aliran tertentu, dan tidak pula terfokus pada jenis atau genre tertentu.
            Bila suatu saat ingin dan ada kesempatan menulis novel, misalnya, ia akan menulis novel; demikian pula ia akan menulis puisi, cerpen, esai, atau yang lain jika memang ada kesempatan untuk itu. Itu pula sebabnya, di samping terus menulis atas keinginan sendiri dan atau untuk melayani permintaan sejumlah media, ia juga sering me-nulis untuk teman-teman yang meminta dibuatkan puisi ulang tahun, ucapan ultah perkawinan, iklan produk tertentu, puisi perkawinan, acara berbagai pesta, hari kemerdekaan, hari Kartini, hari pahla-wan, obituari atas kematian, ucapan selamat idulfitri, Natal dan Tahun Baru, Nyepi, dan sebagainya. Dan dalam hal penciptaan sastra semacam ini, sebagai pengarang Korrie tidak terlalu risau akan mutu. Sebab, menurutnya, yang lebih berhak mengatakan "mutu" atau "tidak bermutu" hanyalah khalayak pembaca. Agaknya, memang harus begitulah sikap seorang "pujangga". ***

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel