-->

R. Intojo: Bapak Soneta dalam Sastra Jawa Modern

R. Intojo lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Juli 1912. Pendidikan dasarnya, HIS (Holland Inlandsche School), diselesaikan di kota Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Setelah tamat dari HIS, R. Intojo kemudian melanjutkan studi ke HIK (Holland Inlandsche Kweek School) di kota Blitar. Akan tetapi, pada tahun 1930, dengan alasan kondisi kesehatannya buruk, ia pindah ke HIK di Gunungsari, Lembang, Bandung, dan baru selesai pada tahun 1933. Setamat dari HIK di Lembang, ia kemudian menjadi guru dan mengajar di sebuah sekolah bernama Perguruan Rakyat di Bandung.
            Namun, tidak lama kemudian, ia pindah dan mengajar di Sekolah Mardi Siswa di Blitar, Jawa Timur. Bahkan, di Blitar pun tidak lama pula karena sejak tahun 1938 ia pindah lagi dan mengajar di HIK Rangkasbitung, Sumatra. Tidak diketahui dengan jelas apakah Intojo turut berjuang dalam Perang Kemerdekaan atau tidak. Yang jelas bahwa pada awal tahun 1960-an ia pergi ke luar negeri dan menjadi pengajar bahasa Indonesia di sebuah sekolah di Rusia (Uni Soviet) dan akhirnya meninggal di sana pada tahun 1965. Tidak diketahui pula apakah kepergiannya ke negara Rusia itu bersangkut-paut dengan peris-tiwa politik atau tidak.
            Karier kepenyairan R. Intojo dimulai pada tahun 1932 ketika masih sekolah di HIK di Lembang, Bandung. Karier itu kemudian berkem-bang sejak terbitnya (pertama) majalah Pujangga Baru (Juli 1933). Itulah sebabnya, di dalam khazanah sastra Indonesia, ia disebut-sebut seba-gai salah seorang tokoh Pujangga Baru. Di dalam bersyair (menulis puisi), dan itu terbukti di dalam beberapa sajak yang telah dipublikasikan dalam majalah, ia sering menggunakan nama samaran, di antaranya Rhamedin, Heldas, Hirahamra, Ibnoe Sjihab, Imam Soepardi, dan Indera Bang-sawan.
            Hingga sekarang tetap tidak diperoleh keterangan yang meyakinkan apakah nama Intojo tersebut nama asli atau justru nama samaran. Di-katakan demikian karena beberapa buku sumber yang diperoleh menyatakan hal yang berbeda-beda. Dalam buku antologi susunan Jus Badudu dkk. (1984), misalnya, disebutkan bahwa nama asli Intojo adalah Rhamedin, sedangkan dalam buku-buku lain disebutkan bahwa Intojo adalah nama asli. Beberapa nama samaran tersebut di-gunakan ketika ia menulis karya (sajak) berbahasa Indonesia, sementara di dalam karya-karya (geguritan) berbahasa Jawa ia secara konsisten menggunakan nama Intojo.
            Dalam khazanah penulisan puisi Indonesia dan Jawa modern, R. Intojo mulai aktif menulis sajak pada masa Pujangga Baru (sejak 1933) dan berhenti pada masa menjelang Jepang datang ke Indonesia (1941). Disebut demikian karena pada masa Jepang (1942--1944), lebih-lebih setelah Indonesia merdeka (sejak 1945), sama sekali tidak dijumpai karya-karyanya. Kendati demikian, tidak berarti bahwa ia tidak aktif lagi di bidang seni-budaya, khususnya sastra (puisi). Hal itu terbukti, kendati tidak lagi menulis sajak, ia masih sempat menulis esai dalam berbagai majalah.
            Salah satu esainya tentang penyair dan karyanya berjudul “Amir Hamzah dan Chairil Anwar”, dipublikasikan dalam majalah Indonesia, No. 10, Thn. II, Juni 1951. Esai tersebut berisi kupasan tentang sajak-sajak Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Selain itu, ia juga menulis esai berjudul “Pantun” yang dimuat dalam majalah Indonesia, No. 4 dan 7, Thn. III, 1952. Beberapa esai yang lain dimuat dalam rubrik “Sudut Bahasa” majalah Nasional antara tahun 1952--1953.
            Dalam salah satu esainya yang dimuat di majalah Nasional (Desember 1952) Intojo antara lain membicarakan bentuk dan corak sajak-sajak penyair Muhammad Yamin dalam Jong Sumatra dan kecenderungan pembaharuan puisi Indonesia. Katanya, bentuk dan corak sajak M. Yamin jelas bersifat baru, tidak lagi bentuk pantun dan syair. Ia kemudian juga memberi beberapa contoh-contoh percobaan mengenai pola, pemakaian aso-nansi, sanjak dalam, dan sejenisnya. Percobaan yang dilakukan M. Yamin ini kemudian diikuti oleh Rustam Effendi dan Sanusi Pane. Bahkan, tidak hanya itu, yang bersifat baru juga tampak pada semangatnya, yaitu rasa nasionalisme yang mula-mula hanya rasa kebangsaan daerah. Itulah isi salah satu esai yang ditulis R. Intojo.
            Sementara itu, sajak-sajak R. Intojo, sang penyair Pujangga Baru ini, telah dipublikasikan dalam berbagai media massa, terutama majalah. Karya-karya yang ditulis dalam bahasa Indonesia pada awalnya diterbitkan dalam Semangat Pemuda, Pedoman Masyarakat, Panji Islam, Almanak Perguruan, dan Pujangga Baru. Saat ini, karya-karya yang berbahasa Indonesia dapat dijumpai dalam buku Puisi Baru (1954) susunan Sutan Takdir Alisjahbana, Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga Tahun 40-an (1984) susunan Jus Badudu dkk., dan Tonggak I (1987) susunan Linus Suryadi A.G.
            Sementara itu, karya-karya yang ditulis dalam bahasa Jawa yang semula diterbitkan dalam majalah Kejawen kini dapat ditemukan di dalam buku Antologi Puisi Jawa Modern 1940--1980 (1984) susunan Suripan Sadi Hutomo. Corak penulisan sajak yang berbentuk soneta itulah yang pada masa selanjutnya ditiru oleh beberapa penyair Jawa lainnya, di antaranya Subagijo Ilham Notodijoyo (SIN); hal ini antara lain tampak dalam sajak “Gelenging Tekad” ‘Kebulatan Tekad’ yang telah dimuat dalam majalah berbahasa Jawa Panyebar Semangat, No. 20, Thn. IX, 12 Juli 1949. Karena itu, oleh beberapa ahli, di antaranya Suripan Sadi Hutomo, R. Intojo dianggap sebagai Bapak Soneta dalam sastra Jawa modern.
            Secara keseluruhan, sajak-sajak (sejauh dapat dijangkau) karya R. Intojo, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, dapat diinventarisasikan sebagai berikut. Sajak yang berbahasa Indonesia berjumlah 17 buah, yaitu “Cend’ra Durja” (Semangat Pemuda, Mei 1932, Pujangga Baru, Agustus 1937), “Zaman yang Mulia” (Semangat Pemuda, 15 Agustus 1932, Pujangga Baru, Desember 1937), “Pulau Bali” (Pujangga Baru, Mei--Juli 1933), “Ibu ...” (Pujangga Baru, Mei--Juli 1933), “Kemegahan Kita di Zaman Bahari” (Pujangga Baru, Agustus 1937), “Kalau Hanya” (Pedoman Masyarakat, 31 Oktober 1936), “Nasib Nelayan” (Pedoman Masyarakat, 31 Januari 1936), “Oh, Nasib ...!” (Panji Islam, 15 Oktober 1937), “Di Mana Tempat Cinta Sejati...?” (Pujangga Baru, Maret 1937), “Rasa Baru” (Pujangga Baru, April 1937), “Air Kecil” (Pujangga Baru, April 1937), “Mengembara Beta ...” (Pujangga Baru, September 1937), “Wetenschap” (Pujangga Baru, Maret 1937), “Untuk Pujangga Baru” (Pujangga Baru, Februari 1938), “Nasib” (Pujangga Baru, Agustus 1938), “Gua” (Pujangga Baru, April 1939), “Roebajat” (Almanak Perguruan, Taman Siswa, 1941). Sementara itu, sajak yang berbahasa Jawa hanya 4 buah, yaitu “Dayaning Sastra” ‘Daya Sastra’ (Kejawen, 1 April 1941), “Kawruh” ‘Pengetahuan’ (Kejawen, 15 April 1941), “Kaendahan” ‘Keindahan’ (Kejawen, 26 September 1941), dan “Wayangan” ‘Bayangan’ (Kejawen, 4 November 1941).
            Di samping menulis puisi (sajak/guritan) dan esai seni-sastra, seperti telah disebutkan di atas, R. Intojo juga aktif dalam berbagai kegiatan diskusi mengenai persoalan sosial-budaya pada umumnya. Pada tanggal 26--27 April 1952, misalnya, R. Intojo mengikuti sebuah kegiatan simposium yang diselenggarakan di Jakarta oleh para seniman kelompok Gelanggang yang bekerja sama dengan berbagai lembaga kebudayaan seperti Lekra, Liga Komponis, PEN-Club Indo-nesia, dan Pujangga Baru. Dalam simposium tersebut, bersama-sama dengan tokoh lain seperti Sutan Sjahrir, J. Ismael, Slamet Imam Santoso, Moh Said, Tan Goan Po, Sjafruddin Prawira-negara, Sutan Takdir Alisjahbana, Bujung Saleh, Darsono, S. Dharta, Achdiat Kartamihardja, dan sebagainya, ia membicarakan berbagai masalah “kesulitan-kesulitan zaman peralihan sekarang”. Kertas kerja atau makalah dan berbagai tanggapan dalam simposium tersebut kemudian diterbitkan dalam buku Symposion (Balai Pustaka, 1953). ***
Telah dimuat HORISON/ KAKILANGIT, Juni 2002, hlm. 3--13.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel