-->

Sumarah: Tipe Sikap Wanita Jawa

Sri Sumarah dan Bawuk. Ini adalah buku Umar Kayam terbitan Pustaka Jaya (1975) yang berisi dua cerita, yaitu “Sri Sumarah” dan “Bawuk”. Sebagian orang menyebut dua cerita itu masing-masing sebagai cerpen, tetapi sebagian lain menyebutnya sebagai cerpen panjang atau novelet. Pendek atau panjangnya dua cerita itu tidaklah penting karena yang terpenting adalah bahwa secara menyeluruh keduanya masih berpijak pada konvensi yang jelas, realistis, dan kita sebagai pembaca tak terlalu sulit memahaminya. Secara dominan tokoh-tokohnya dibeberkan secara analitik dan perwatakan terkesan kuat karena dibangun bersama dengan suasana dan latar yang kuat pula.
            Ada kesan bahwa cerita didominasi oleh pembalikan alur (backtracking) dan cakapan batin (monoloque interireur) sehingga muncul pula kesan adanya penguluran alur. Tetapi, hal itu tidaklah mengurangi kuatnya teknik pembeberan watak, bahkan justru karena itu cerita tersebut tepat untuk digolongkan ke dalam jenis cerpen yang panjang (long short story). Dalam cerita tersebut Umar Kayam menghadirkan tokoh sebagai penanda judul cerita, yaitu Sri Sumarah dalam Sri Sumarah dan Bawuk dalam Bawuk. Hakikatnya tokoh ini ialah tokoh utama yang menunjukkan kehadirannya dari kelompok etnis Jawa. Hal itu diperkuat oleh adanya nama-nama khas Jawa seperti Tun, Ginuk, Pak Carik, Tukimin, Suryo, dan lainnya.
Sistem pemberian nama dalam masyarakat Jawa memang sering dikaitkan dengan tujuan tertentu sehingga kelak yang diberi nama berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan. Sri Sumarah, misalnya, diharapkan kelak ia senantiasa sumarah, pasrah, dan sabar sesuai dengan arti dan makna istilah sumarah dalam masyarakat Jawa yaitu sebagai “salah satu jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup”. Selain menunjukkan sikap dan perilaku, nama seseorang juga dapat digunakan untuk membedakan sesuatu dengan lainnya, misalnya mengenai jenis kelamin, suku, status, dan atau kedudukannya dalam masyarakat.
Tokoh Sri Sumarah sesungguhnya memiliki bentuk watak yang datar statik karena cara dan sikapnya menunjukkan sifat sumarah, pasrah, dan menyerah terhadap apa saja yang menimpa dirinya. Sikap demikian inilah yang secara turun-menurun telah menjadi sesuatu yang diakui kebenarannya dalam masyarakat Jawa. Meskipun Sri Sumarah banyak mengalami kepahitan hidup karena harus menanggung hidupnya sendirian dengan kerja keras menjadi tukang pijit dan tukang jahit, ia tetaplah bersikap statis sehingga bagaimanapun juga ia tidak dapat mengubah cara hidupnya yang selalu sumarah. Ia selalu menolak tatkala mendapat tawaran untuk kawin lagi juga karena ia 'mengerti' dan 'sadar' akan sikap sumarahnya.
            Sikap statis ini juga dimiliki oleh tokoh Bawuk dalam Bawuk. Tidak demikian sesungguhnya apa yang dikhayalkan oleh ibunya (Nyonya Suryo) tentang surat-surat Bawuk yang menunjukkan kelincahannya. Bawuk berwatak periang (seperti khayalan Nyonya Suryo), pemurah, dan lincah bagai burung kepodang, tetapi di balik sikap itu sesungguhnya tersirat arti yang dalam tentang hubungan antarmanusia. Ia memiliki sifat yang lain dari sifat waktu kecilnya. Setelah diperistri Hasan, si tokoh ekstrim CGMI, Bawuk memiliki sifat yang senantiasa dipegang teguh. Bawuk memilih menunggu dan menunggu suaminya (walau bagai menunggu godot) padahal tidak jelas suaminya itu berada di mana. Sikap dan pilihan inilah yang mengakibatkan ia berwatak datar statik. Dan pilihan ini barangkali merupakan salah satu usaha mempertahankan eksistensinya secara pribadi karena ia merasa bahwa menunggu Hassan adalah menunggu seorang suami, bukan menunggu Hassan sebagai tokoh komunis. Itulah barangkali tipologi Jawa yang dieksplisitkan Umar Kayam dalam tokoh-tokoh ceritanya. Maksud lainnya ialah bahwa watak demikian barangkali yang sesuai dengan orang Jawa, khususnya wanita, dalam gelimang eksistensi hidupnya.
            Jika dilihat dari pola alurnya, dua cerita Umar Kayam dalam buku ini memang sesuai dengan hakikatnya sebagai jenis cerpen. Walaupun terjadi penguluran alur, dari awal sampai akhir bentuk watak tokohnya selalu datar dan statis. Barangkali, ini merupakan persepsi Umar Kayam dengan maksud untuk menunjukkan gejala dan sikap hidup budaya Jawa. Oleh karena itu, sejalan dengan apa yang dikatakan de Jong (1976), sikap sumarah dalam hal narima 'menerima apa saja' ialah sikap yang semata bukan untuk menyelamatkan seseorang dari bahaya, melainkan sebagai perisai terhadap penderitaan yang disebabkan adanya malapetaka.
            Selain penampilan tokoh dengan segala kestatisannya tersebut, sesungguhnya tipologi Jawa ala Sri Sumarah dan Bawuk juga berkaitan dengan persepsi orang Jawa terhadap karakter wayang. Karakter wayang ini oleh orang Jawa telah diyakini pula sebagai simbol watak manusia. Marbangun Hardjowirogo (1983) pernah mengatakan bahwa wayang merupakan identitas  utama manusia Jawa. Manusia gemar beridentifikasi dengan tokoh wayang tertentu dan bercermin padanya dalam melakukan tindakannya. Oleh karena itu, Sri Sumarah diibaratkan sebagai Sembadra karena ia pandai memikat Mas Marto, suaminya, atau sang Arjunanya. Begitu pula karakter baik dikategorikan sebagai keturunan Pandawa dan sebaliknya yang dengki-srei digolongkan sebagai Kurawa. Itulah tipologi Jawa terhadap karakter wayang.
            Sikap sumarah sesungguhnya merupakan cermin bagi wanita Jawa. Sebab, sumarah dalam artian ini justru terjadi karena manusia sebagai makhluk Tuhan. Meskipun arti sumarah sering dibayangkan sebagai salah satu bidang ilmu kebatinan, tetapi kebatinan dalam hal ini juga mengandung arti justru karena Tuhan. Dan karena istilah sumarah merupakan istilah yang hidup dan bahkan berkembang dalam masyarakat Jawa, layaklah bila istilah tersebut menjadi salah satu elemen ilmu kebatinan yang diyakini kebenarannya oleh manusia (orang) Jawa.
            Salah satu aliran kebatinan murni yang berkembang dalam masyarakat Jawa ialah Pangestu. Pangestu merupakan sikap hidup manusia Jawa yang erat berkaitan baik dengan dunia material maupun spiritual. De Jong (1976) membedakan paham Pangestu menjadi tiga kunci pokok, yaitu distansi, konsentrasi, dan respresentasi. Ketiga kunci itu dapat menjelmakan makna yang berarti sesuai dengan citra kebudayaan Jawa dan sikap-sikap hidupnya.
            Distansi ialah kunci yang mencerminkan sikap manusia terhadap dunia dan akhirat. Manusia Jawa, khususnya wanita berkeyakinan bahwa sikap rila (rela), narima (menerima), dan sabar menjadi ciri khas yang harus ditaati. Sikap sumarah sudah tergolong ke dalam sikap hidup tersebut. Sumarah berarti harus tunduk, patuh, dan menerima segala yang menimpa diri, dilandasi dengan kesabaran, apalagi bagi kaum wanita, yang harus taat, patuh, dan bersikap sumarah terhadap suaminya. Distansi yang telah diyakini inilah yang dijadikan garis pemisah antara dunia besar (jagat gedhe) di luar dirinya dan dunia kecil (jagat cilik) dalam dirinya sendiri.
            Upaya untuk menemukan diri harus dilandasi dengan konsentrasi sehingga dari pandangan dunia besar dan dunia kecil diperoleh hasil positif. Setelah diri manusia ditemukan dan telah memperoleh kekayaan batin, berarti manusia itu telah meraih representasi atau mencapai kesempurnaan hidup. Dengan demikian, bila ketiga konsep mengenai sikap hidup itu telah dipahami dan ditemukan serta disadari pula bahwa manusia itu hidup di dunia, maka hal ini dapat dikatakan bahwa manusia itu telah menemukan arti sumarah-nya. Sikap inilah yang selama ini diyakini oleh manusia Jawa, dan sikap itu pula yang dapat memberikan cermin kepada wanita Jawa.
            Dari seluruh uraian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwa tokoh Sri Sumarah dan Bawuk merupakan prototipe wanita Jawa sebagai pengejawantahan transformatif tokoh-tokoh mite jagat pewayangan. Dapat pula dikatakan bahwa tipologi Jawa ala Sri Sumarah merupakan sajian jagat wanita Jawa yang dicoba utuh dan didukung oleh masyarakat yang plural dan atau majemuk. ***
Suara Karya, 12 Januari 1986

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel