-->

Ekspresi “Kemarahan” Gus Mus


Kita tahu di Indonesia jumlah kiai begitu banyak. Tapi kiai macam Gus Mus (A Mustofa Bisri) boleh jadi hanya satu-satunya. Ia sungguh berbeda bila dibanding kiai-kiai lainnya. Sebab putra kedua tokoh NU (KH Bisri Mustofa) lulusan Al-Azhar, Kairo, Mesir ini tak hanya dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren (Raudlotut Tholibien Rembang), tapi juga sebagai penyair, cerpenis, esais, pelukis, dan budayawan. Sebagai kiai, Gus Mus jauh dari kesan angker dan eksklusif. Justru sebaliknya, dia seorang humoris, bahkan sangat moderat, juga demokrat. 

Kiai kelahiran Rembang 10 Agustus 1944 ini tak sekedar peduli pada pondok pesantrennya, pada santri-santrinya, tapi juga amat peduli pada seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Karenanya, meski dia seorang kiai, dia bisa “marah-marah” ketika melihat negeri ini terpuruk dan tak bisa menjamin kedamaian dan kesejahteraan rakyat. Dan “kemarahan” itu pun makin menjadi-jadi karena, ternyata, penyebab atau biang kerok dari seluruh petaka itu justru mereka-mereka (para penguasa) yang mestinya bertanggung jawab memberi keamanan dan kedamaian.
            Anda boleh percaya boleh tidak, tapi yang jelas buku ini merupakan wujud ekspresi “kemarahan” Gus Mus atas berbagai peristiwa buruk yang menimpa negeri ini sejak menjelang ambruknya Orde Baru hingga peristiwa Bush mencaplok Irak. Ekspresi kemarahan itu diwujudkan dalam bentuk esai-esai yang cerdas, tajam, dan terus terang. Dan buku ini bukan kumpulan esai politik, hukum, atau keadilan, tetapi isinya terasa jauh menembus masalah-masalah politik, hukum, dan keadilan. Jelasnya kemarahan Gus Mus dalam buku ini menembus nurani kita.
Itu sebabnya, buku ini tak sekadar mengajak kita untuk mengubah tatanan sosial, politik, hukum, dan keadilan, tetapi lebih dari itu: agar siapa pun, termasuk para pemegang kekuasaan di negeri ini, bisa melihat dan merenungi diri sendiri. Mengapa? Karena sebuah perubahan besar hanya akan berjalan lancar dan bisa dicapai jika dimulai dari perubahan dalam diri sendiri. Bagaimana cara melihat dan mengubah diri sendiri? Jawabnya bisa beraneka macam, dan dengan gaya anekdotis, jenaka, dan kritis, Gus Mus telah memaparkannya secara apik dalam buku ini.
            Buku ini dibagi menjadi enam bagian. Setiap bagian diberi judul sendiri-sendiri. Dalam kata pengantarnya Gus Mus memberi rambu-rambu bahwa setiap bagian dapat dinikmati secara terpisah. Artinya, buku ini tidak harus dibaca dari awal, tetapi pembaca dapat njujug (langsung) pada bagian-bagian yang disukai. Namun, kalau dicermati, enam bagian itu merupakan kesatuan dan layak dibaca dari awal sampai akhir. Sebab dengan membaca secara keseluruhan, kita bisa menangkap secara utuh pola pikir Gus Mus dalam memandang beragam gejala dan fenomena yang terjadi di negeri ini.
Bagian pertama, yang diberi judul “Tokoh”, berisi uraian mengenai figur-figur (tokoh panutan) yang perlu diteladani oleh kita semua, termasuk oleh para pemimpin dan penguasa negeri ini dalam menjalankan roda pemerintahan. Mengapa negeri ini tak mampu memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat? Jawab Gus Mus sangat jelas dan tegas: karena para pemimpin kita kebanyakan tidak berusaha meneladani sikap dan pola kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w.
Bagian kedua dan ketiga, yang diberi judul “Keberagaman” dan “Norma Pergaulan”, berisi ajakan untuk menyadari bahwa kita tidak mungkin mengingkari realitas: bangsa kita sangat beragam (bahasa, suku, agama, dll) dan karenanya kita (seluruh bangsa Indonesia) harus mampu menciptakan suatu norma pergaulan yang bisa merangkul seluruh aspek keberagaman itu. “Janganlah merusak/membantai orang lain dengan dalih membela agama (Allah) tertentu, sebab agama (Allah) apa pun sama sekali tidak menyukai tindakan merusak/membantai,” demikian ungkap Gus Mus.
Kepedulian Gus Mus terhadap kecarut-marutan negeri ini diungkap dengan kritis dalam bagian keempat yang diberi judul “Kemerdekaan II”. Gus Mus melihat bahwa negeri ini memang sudah merdeka (17 Agustus 1945). Tetapi, konsep “merdeka” tampak masih diartikan sebagai “berkuasa dan bebas melakukan apa saja”. Karenanya, sulit dibedakan mana presiden, mana wakil presiden, mana parlemen, mana polisi, mana preman, mana jaksa, mana hakim, mana mubaliq, mana provokator, mana politisi, mana pers, dan mana teroris (hlm. 167). Itu sebabnya, secara implisit, Gus Mus “marah besar” sehingga berteriak: kita perlu kemerdekaan yang benar-benar merdeka (Kemerdekaan II). Dan kalau kita sudah merdeka, tidak hanya dalam konteks diri tetapi juga antar-sesama manusia, maka wajiblah kita (sebagaimana diuraikan dalam bagian lima) menolak tindak kejahatan (teror, intimidasi) seperti yang dilakukan oleh Amerika (Bush) dan sekutunya.
Demikianlah, setelah “kemarahan” dicurahkan habis, dalam bagian terakhir buku ini, yang diberi judul “Kembali Kepada Allah”, penulis (Gus Mus) mengajak kita untuk melihat diri sendiri, bertobat, dan kembali pada Allah. “Untuk membersihkan diri, tidak cukup kita hanya mengakbarkan takbir dan zikir, tetapi perlu mengetahui secara tepat letak, macam, dan kadar kekotoran yang melekat pada kita sehingga kita bisa secara tepat pula membersihkannya. Cobalah masing-masing kita menggeledah diri, meraba kekotoran sendiri, dan membersihkannya untuk kembali kepada Allah. Kalau kita merasa pernah katutan (atau sengaja mengorupsi) hak orang lain, coba kembalikan atau tebusilah….” (hlm 262). Begitu pinta Gus Mus. ***

Buku berjudu Melihat Diri Sendiri, A. Mustofa Bisri, Gama Media Yogyakarta, Maret 2003


Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel