-->

Orang-Orang Bloomington Budi Darma: Corak Baru Cerpen Indonesia

Membaca esei-esei Budi Darma kita merasa apa yang ditulisnya merupakan pokok soal yang memperkuat pendapat dan keyakinan dalam cerpen-cerpennya. Hal itu tampak pada pendapatnya tentang dunia sastra merupakan dunia jungkir balik. Katanya, karya yang bernilai sastra adalah karya yang justru menggambarkan dunia yang tidak beres. Seolah dunia yang mengungkap kebenaran abadi adalah dunia yang jungkir balik, tanpa moral, tanpa logika, dan bertentangan dengan akal sehat.
            Pendapat inilah yang mewarnai cerpen-cerpen Budi Darma, tanpa kecuali. Dari sekian puluh cerpen yang dipublikasikan di majalah sastra Horison, agaknya baru ada satu buku yang khusus memuat cerpen-cerpen Budi Darma, yaitu Orang-Orang Bloomington yang diterbitkan oleh Sinar Harapan, 1980. Buku itu memuat tujuh cerpen, yaitu "Laki-laki Tua Tanpa Nama", "Joshua Karabish", "Keluarga M", "Orez", "Yorrick", "Ny. Elberhart", dan "Charles Lebourne".
            Membaca cerpen-cerpen dalam kumpulan ini kita seolah dihanyutkan ke suatu tempat yang terasing bagi dunia kita. Tetapi, meskipun cerpen-cerpen ini dilatari sistem budaya Barat ala Boomington (New York), seolah kita juga, meski secara dipaksakan, terjun ke dalam sistem budaya itu. Kita seperti terjepit dalam situasi yang serba asing sehingga tokoh "saya" (sebagai manusia Timur) seolah mengalami perdebatan seru dengan dirinya sendiri. Sudut pandang "saya" yang dipergunakan Budi Darma kiranya mampu mewakili situasi kondisi orang-orang Timur yang mempunyai ciri khas dan bahkan bertentangan dengan Barat, yang berusaha sekuat tenaga untuk beradaptasi dengan dunia Barat yang khas pula.
            Pengadaptasian yang agak dipaksakan itulah yang menimbulkan tipe watak tokoh yang tidak menentu. Kadang ia berlagak pahlawan tetapi terkadang sebaliknya, yakni pengecut, pendendam, atau kalau perlu harus bertindak begitu untuk membebaskan dirinya. Begitulah seterusnya sampai pada akhirnya kita hanya bisa menarik kesimpulan bahwa cerpen-cerpen ini mengandung tema kesengsaraan, keterasingan, dan ketidakmenentuan.
            Dalam semua cerpennya agaknya Budi Darma sekaligus “masuk” ke dalam tokoh utamanya di samping sebagai narator yang memainkan tokoh-tokoh itu. Bahkan dalam kesengsaraan dan keterjepitan itu ia sendiri yang kelihatan memaksakan diri sebagai pahlawan untuk menerobos masyarakat yang metropolis. Walau bagaimanapun gigihnya, ia tidak bisa lepas dari ciri pribadinya sebagai orang Timur yang konon terdidik dalam masyarakat yang nonmetropolis. Itulah sebabnya, tindakan-tindakan dan peristiwa yang dialaminya benar-benar jungkir balik.
            Dalam dua cerpennya, "Laki-laki Tua Tanpa Nama" dan "Joshua Karabish", sang narator (Budi Darma) adalah orang asing. Artinya, sebagai narator ia adalah orang asing dalam arti tidak terlibat langsung dalam pergulatan peristiwa sebab pada waktu menulis cerpen ini ia (Budi Darma) berada di London dan Paris meskipun kisah ceritanya tentang orang Bloomington. Hal itu terlihat dalam "Laki-laki Tua Tanpa Nama". Dalam cerpen ini Budi Darma hanya sebagai pengamat yang dengan gaya "saya" menyaksikan peristiwa adanya laki-laki tua aneh yang menyewa kamar di rumah Ny. Casper dan mempunyai kebiasaan seperti orang keserupan sebab selalu membidikkan pistol setiap hari. Tetapi pada peristiwa lain si narator (Budi Darma) melihat laki-laki tua itu telah tewas ditembak Ny. Nolan. Karena itulah, narator dalam cerpen ini adalah orang asing, dalam arti orang yang hanya menyaksikan sebuah peristiwa saja.
            Begitu juga cerpen "Joshua Karabish", narator hanyalah menyaksikan Joshua yang ketika itu tiba-tiba meninggal gara-gara penyakitnya yang tak dapat disembuhkan. Dalam hal itu narator pun tidak melihat sendiri, tetapi hanya melihat datangnya surat dari ibu Joshua yang mengabarkan bahwa dirinya (narator) diminta untuk mengirimkan semua barang-barang milik Joshua sebab Joshua telah meninggal. Inilah yang menyebabkan narator mengalami pergolakan batin antara benci dan kasihan. Benci karena penyakit Joshua telah menularinya dan kasihan karena tidak tega melihat teman akrabnya telah menemui nasib malang. Ini pula yang mengakibatkan narator mengalami kesengsaraan, dan lebih sengsara lagi ketika jasa baik narator “saya” tidak diterima oleh keluarga Joshua Karabish.
            Dalam cerpen yang lain Budi Darma benar-benar larut dalam seluruh peristiwa cerita. Budi Darma benar-benar sebagai subjek yang dinamis yang berkecimpung dalam situasi soaial yang akhirnya mengalami keterasingan. Dalam "Keluarga M", misalnya, Budi Darma menyajikan keterasingan manusia karena terjepit oleh tatanan masyarakat metropolis yang seram. Keterasingan lebih dirasakan lagi ketika Keluarga M (Melvin, Marion, Mark, dan Martin) menolak jasa baiknya. Agaknya dalam dunia  ini ada hubungan yang formal antara kemandirian dalam hidup sehingga tidak sembarang pemberian atau jasa baik dapat diterima.
            Dalam cerpen "Orez" Budi Darma berperan sebagai salah seorang warga yang ingin mencari "jati diri" di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, walaupun resikonya terlalu besar ia tidak juga gentar menerima Hester Price sebagai istrinya. Inilah cerpen Budi Darma yang disajikan dengan baik dan menonjolkan tanggung jawab seseorang sebagai manusia yang manusiawi. Cerpen yang agak kedodoran adalah cerpen "Yorrick". Dalam cerpen ini hanyalah dikisahkan bahwa "saya" sebagai manusia yang kurang dapat mengadaptasikan diri dengan adat pergaulan sehingga ia mengalami kesengsaraan karena cintanya kepada Chaterine dan Caroline tak mendapat tanggapan. Karena kurang gesit dalam pergaulan itu akhirnya kedua gadis itu menjadi milik orang lain. Kejadian semacam ini menimbulkan rasa benci kepada pemuda rivalnya yang kemudian hati kotornya ditumpahkan kepada semua orang.
            Pada dasarnya cerpen-cerpen yang telah disebutkan itu semuanya disajikan oleh manusia yang tergencet oleh adanya pertentangan latar sosial yang gerai, kejam, dan individualistik. Tetapi barangkali itu telah sesuai sebab latarnya adalah masyarakat metropolis yang terkenal individualis dan egois. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya hubungan manusia yang tidak lagi alamiah, tetapi hubungan mereka telah terperangkap oleh kepentingan sehingga manusia menjadi korban.
            Hubungan semacam itu tampak jelas pula dalam cerpen "Ny. Elberthart" dan "Charles Lebourne". Hubungan antara "saya" dengan Ny. Elberhart hampir-hampir tak bernalar sebab hanya berdasarkan kepentingan. Begitu juga dalam "Charles Lebourne". Dalam cerpen ini dikisahkan hubungan "saya" dengan Charles Lebourne yang konon, menurut cerita ibu, adalah ayah "saya". Meski demikian, "saya" tidak peduli apakah dia itu ayah atau bukan, yang terpenting adalah usaha "saya" untuk menemui Charles Lebourne yang sebelumnya telah mengganggu dan membuat “saya” sengsara. Begitu pun sebaliknya, Charles Lebourne tidak peduli itu anak atau bukam, tetapi ia ("saya") telah mengganggu ketenteraman hatinya. Inilah hubungan manusia berdasarkan kepentingan, bukan hubungan wajar dan lumrah sebagaimana hubungan manusia pada umumnya.
            Demikian cerpen-cerpen Budi Darma yang terkumpul dalam buku Orang-orang Bloomington. Budi Darma dengan gaya "saya"-nya menunjukkan gejala-gejala baru dalam khasanah penulisan cerpen Indonesia. Kalau Danarto menggarap cerpennya dengan dunia mistik, falsafi, dan wayang; atau Iwan Simatupang dan Putu Wijaya tampil dengan dunia imajiner, Budi Darma tampaknya tampil dengan corak yang baru, yaitu gaya "saya" sebagai ciri khas kepengarangannya.
            Gaya semacam ini kiranya dapat disejajarkan dengan gaya Umar Kayam seperti tampak dalam cerpen-cerpennya yang ditulis di Amerika, misalnya, cerpen "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan". Tetapi, Budi Darma agaknya sedikit lebih berhasil meleburkan diri dalam situasi sosial yang ditempatinya. Budi Darma telah berusaha menjadi warga negara yang sah di Bloomington. Kekhasannya sebagai orang Timur hampir hilang, tidak seperti Umar Kayam yang masih terlihat jelas sifat ketimurannya, meskipn kadang-kadang seperti dipaksakan.
            Ditinjau secara formal-struktural, cerpen-cerpen Budi Darma masih mengikuti logika tradisional karena plot dan cerita disajikan secara jelas dan mudah dipahami. Hanya saja, tokoh-tokoh yang disajikan terasa agak aneh. Keanehan inilah yang mungkin menyebabkan Budi Darma digolongkan sebagai pengarang dengan corak baru dalam kondisi percerpenan Indonesia tahun 70-an. Karena corak baru itu pula, Budi Darma akhirnya mendapat kehormatan, yaitu empat cerpennya dimuat di Horison edisi khusus, April 1974, yaitu "Kristus Adinan", "Dua Laki-Laki", "Secarik Surat", dan "Laki-Laki Setengah Umur". Dan dalam majalah itu dimuat pula esei Harry Aveling berjudul "Dunia Jungkir Balik Budi Darma" dan wawancara Sapardi Djoko Damono dengan Budi Darma. ***
Prioritas, 18 Januari 1987

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel