-->

KROCO: Kritik Sosial Gaya Putu Wijaya (Ulasan Buku)

            Hingga saat ini barangkali hanya Putu Wijaya-lah pengarang yang paling sregep dan produktif. Dia mengarang dan mengarang terus.  Lebih dari 24 novel, 30 naskah drama, dan 500 cerpen telah ia terbitkan. Ini belum termasuk puisi, esei-esei sastra, kolom-kolom sosial budaya, dan naskah skenario untuk film dan sinetron.
         Sejauh ini konsep berkarya Putu Wijaya tetap dan ajeg. Persoalan yang digarap juga ajeg. Dunia simbolik orang-orang (tokoh) kebanyakan yang sinting, gila, aneh, selalu ia ekspresikan ke permukaan. Ia banyak juga mengangkat tokoh mitologis dari pewayangan. Ciri ekspresi verbalnya juga tak jauh bergeser, yaitu judul singkat, bahasa  segar, penuh idiom erogen, tokoh-tokoh manusia serba mungkin,  settingnya detail dan simbolis, yang semuanya serba inkonvensional. Dengan ciri serba menyimpang dari konvensi itu Putu Wijaya membangun  konvensinya sendiri. Karena itu, tentu saja, ia punya konsep estetika tersendiri yang berbeda dengan pengarang lain.
            Demikian juga novel terakhirnya, Kroco, yang terbit bulan November 1995. Kalau dalam novel Pol, tokoh Aston bisa bertemu (berbicara) dengan tokoh pewayangan Semar, dalam Kroco  tokoh Warno dapat leluasa berbicara dengan pohon-pohon. Menurut Warno, semua itu tidak aneh, karena pohon, dahan, ranting, daun, dan segalanya juga hidup sebagaimana layaknya manusia. Kalau manusia bisa hidup dan berbicara, entah dengan sesama atau dengan dirinya sendiri, mengapa pohon tak bisa hidup dan bicara? Lambaian, ayunan, dan goyangan (tertiup angin) itulah pertanda mereka (pohon-pohon) dapat berbicara atau membahasakan dirinya. Itu setidaknya menurut cerita Warno --bukan cerita Putu-- karena Warno-lah yang mengalami dan menuturkannya kepada istri dan warga masyarakat di sekelilingnya.
            Namun, yang menarik dalam novel ini sebenarnya bukan soal Warno yang dianggap sinting karena berdialog dengan pohon. Tapi justru kesintingan hidup manusia yang sering kita jumpai sehari-hari. Bukan hanya Warno saja yang stres akibat di-PHK dari pekerjaannya (pabrik teh), tetapi yang senasib dengan Warno juga sering kita dengar lewat berita di koran-koran.  Bukan hanya Warno saja yang jadi kere setelah mengadu nasib ke Jakarta, orang-orang lain yang senasib dengan Warno masih cukup banyak. Jika diamati, sesungguhnya Warno dalam novel ini bukan sekadar corong kegilaannya, tetapi justru “ceramah” yang sangat vokal mengenai ketimpangan sosial kemanusiaan dalam masyarakat. Meskipun yang “ceramah” hanyalah pohon-pohon, dan pendengarnya hanyalah Warno, tetapi lewat berbagai personifikasi simbolik novel ini mampu menampilkan ironika hidup yang sangat dekat dengan kita.
            Lewat kegilaan Warno-lah teror-teror mental masyarakat terjadi. Teror mental pertama melanda istri Warno sendiri. Meski semula menganggap Warno sudah gila,  tetapi ketika secara diam-diam ditinggal ke Jakarta, istri Warno  ikut-ikutan menjadi  gila.  Istri Warno juga mengaku --karena didesak oleh orang-orang di sekitarnya-- dapat berbicara dengan pohon. Dari sinilah kemudian  teror mental datang bertubi-tubi dan melanda warga sekitar.
            Suatu saat, istri Warno ditanya berapa nomor SDSB yang bakal keluar. Dan ia menjawab sekenanya. Tapi, ternyata ucapan ngawur itu cocok dengan nomor SDSB yang keluar. Dengan begitu,  berbondong-bondonglah orang datang minta nomor. Lalu mental mereka  terteror sendiri dan “meresmikan” istri Warno jadi dukun nomor SDSB yang ampuh.  Dari sinilah kemudian  kesintingan  (hidup sehari-hari) manusia tergambar dengan jelas.  Banyak orang lalu mengambil kesempatan dalam kesempitan  istri Warno. Akibatnya, bukan istri Warno yang jadi kaya, tetapi tanah, rumah, dan segala miliknya justru habis terjual. Ia digerogoti oleh orang-orang yang mengaku “waras”. Barangkali ini adalah realitas, bukan hanya realitas Warno dan istrinya  dalam fiksi ini, tetapi juga realitas yang sering kita saksikan di sekitar kita. Banyak orang menggerogoti sesamanya dengan dalih membantu, melindungi, atau menyelamatkan.
            Kebobrokan mental manusia tergambar pula ketika Warno telah berada di Jakarta. Kepada Warno pohon-pohon berbicara soal penggusuran tanah, pembangunan lapangan tertentu yang hanya bisa dinikmati orang kaya, pelaksanaan proyek-proyek tanpa kemanusiaan, dan polusi serta kerakusan manusia kapitalis. Kendati yang berbicara hanya pohon-pohon, apalagi  hanya dalam fiksi, tetapi bagaimanapun --ketika membaca novel ini-- kita tidak mampu membedakan secara dikotomis antara fiksi dan realitas. Sebab, dalam kenyataannya, antara fiksi dan realitas sulit dipi-sahkan.   Sinting-waras, benar-salah, hampir-hampir tak ada bedanya. Salah bisa benar, benar bisa salah, koruptor bermuka penyandang dana,  pengawas justru melindas, agaknya bukan barang aneh di sekitar kita. Bukan pula sebuah anekdot, tapi sungguh hadir di depan kita.  
            Jika boleh disimpulkan, novel ini barangkali lebih dekat dengan fakta tentang  kesintingan manusia daripada fiksi sinting tentang  manusia yang sinting. Kendati novel ini tidak sebagus novel Telegram, Stasiun, atau Perang,  tetapi ia cukup menjadi saksi dan catatan terhadap tingkah-polah manusia (dan masyarakat) yang semakin terkotak, tergencet, dan terkoyak akibat heterogenitas kehidupan modern.  Namun, yang jadi pertanyaan, mengapa musti hanya kroco-kroco atau orang kebanyakan saja yang senantiasa menderita? Jawabannya: tanyalah pada pohon-pohon!!!  *** 


Judul Novel       : KROCO
Pengarang          : Putu Wijaya
Pengantar           : Ariel Heryanto
Penerbit              : Pustaka Firdaus
Terbit                  : November 1995
Tebal                   : 124 + viii halaman

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel