-->

Kerinduan Danarto kepada Tuhan

Dalam kesusastraan Indonesia, nama Danarto tidaklah mungkin dilupakan di antara sekian banyak sastrawan terkemuka di Indonesia. Sastrawan kelahiran Mojowetan, Sragen, Jawa Tengah ini lebih dikenal sebagi cerpenis. Sebagai cerpenis, Danarto telah banyak mempublikasikan karyanya, antara lain kumpulan cerpen Godlob (1976) yang memuat delapan cerpen, yaitu "Godlob", “Gambar Jantung Ditusuk Panah” atau lebih dikenal sebagai "Rintrik", "Sandiwara Atas Sandiwara", "Kecubung Pengasihan", "Armageddon", "Nostalgia", "Asmaradana", dan "Labyrint." Sedangkan kumpulan cerpennya Adam Ma'rifat (1982) memuat enam cerpen, yakni "Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat", "Adam Ma'rifat", "Megatruh", "Not Lagu disertai kata Ngung-Ngung, Cak-Cak", "Lahirnya Sebuah Kota Suci", dan "Bedoyo Robot Membelot."
       Danarto dikenal sebagai sastrawan dengan konsep mistik. Namun, mistik dalam tesisnya justru menjadi tujuan pokok pencarian Tuhan. Ia mempergunakan karya kreatifnya sebagai wahana imajinatif untuk menyatu dengan Tuhan (Sang Pencipta). Barangkali ia bertolak dari eksistensinya sebagai manusia yang semua itu dapat diperoleh justru bila hakikat kemanusiannya dikembalikan kepada dirinya sendiri. Kalau boleh kita interprestasikan, itu sejalan dengan aliran filsafat eksistensi Karl Jaspers yang menegaskan bahwa hakikat kebebasan manusia adalah justru karena Tuhan “ada”. Lain kiranya dengan Paul Sartre yang berpendapat sebaliknya. Sartre berpendapat bahwa hakikat kebebasan manusia ialah karena Tuhan “tidak ada”. Artinya, eksistensi tidak berdasarkan transendensi atau tidak berlandaskan kepada adanya Zat Yang Maha Tinggi.
         Kendati demikian, lain kiranya dengan konsep mistik Danarto. Ia lebih bersepaham dengan pemikiran filsafat Karl Jaspers, seorang filsuf Jerman, yang menyatakan bahwa hakikat kebabasan manusia adalah karena Tuhan "ada". Titik tolak demikianlah yang kemudian disinyalir oleh Danarto dan kemudian dituangkan dalam beberapa karya sastranya, seperti terlihat pada kumpulan cerpen Godlob dan Adam Ma'rifat.
         Dalam cerpen “Godlob”, misalnya, tersaji suasana porak poranda kehidupan manusia yang melawan maut. Dalam hal ini, hidup dan mati sesungguhnya bersatu. Ia tidak memperdulikan apa arti sebuah kematian atau kehidupan sehingga sang tokoh disimbolkan sebagai eksistensi pribadi yang lepas dari pengaruh pihak lain. Sebab, semua yang hadir (“ada”) tentu akan kembali kepada “tak ada”. Inilah hakikat kehidupan. Karena itu, dalam kisah cerpen ini sang ayah tidak lagi mengenal anaknya sehingga akhirnya mereka saling bunuh. Barangkali ini karena kehidupan manusia masih amat dikuasai oleh nafsu jasmaniah. Dengan demikian, semua hakikat dalam kehidupan akan dapat dimengerti apabila segalanya dikembalikan kepada dirinya sendiri sekaligus bertransendensi dengan Tuhan, Zat yang Maha Tinggi.
         Kasus serupa tampak dalam cerpen "Armageddon”. Di dalam cerpen ini juga dikisahkan adanya kebobrokan kehidupan manusia yang tidak memahami eksistensi pribadi dan Tuhannya. Seorang gadis mencintai Boneka, namun si Boneka sesungguhnya telah menjadi pacar ibunya. Akhirnya terjadi bantai-membantai antara orang tua dan anak. Dengan begitu, nafsu jasmaniah dalam hal ini masih amat besar pengaruhnya. Namun, itu pun segalanya akan dapat dipahami jika dikembalikan kepada eksistensi dan transendensi.
         Eksistensi manusia yang mengalami proses pencarian Tuhan terlihat pada cerpen "Kecubung Pengasihan". Segala benda selain manusia dianggap sebagai makhluk yang amat rendah derajatnya. Namun, seperti dikatakan oleh seorang perempuan hamil dalam cerpen ini, itu semua adalah karena proses reinkarnasi. Tetapi, dirinya menyadari bahwa akhirya toh segalanya akan kembali pada Zat Yang Maha Tinggi. Karena itu, manusia diharapkan tidak memperpanjang proses reinkarnasi sebab ia tahu bahwa segala yang dapat mengetahui timbangan baik-buruk hanyalah Tuhan. Kalau demikian halnya, telah tercapailah kesesuaian antara jagad cilik dan jagad gedhe atau antara dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
        Demikian juga di dalam cerpen "Gambar Jantung Ditusuk Panah" (Rintrik). Cerpen yang memperoleh hadiah Horison 1968 ini menokohkan Rintrik sebagai pahlawan walaupun toh akhirnya juga mati di tangan sang pemburu. Justru saat maut menemui dirinya, ia bahkan tersenyum dan sadar karena dirinya merasa bersua dengan Tuhan. Barangkali pemikiran saat manusia mati itulah, bagi Danarto dianggap sebagai saat untuk berdialog dengan Tuhan. Selain kerinduannya terhadap Tuhan lewat “proses penyatuan diri”, lebih khusus lagi ia melandaskan pada soal kebatinan Jawa.
        Bagi Danarto prinsip pokok konsepsi kebatinan Jawa hanyalah bertujuan untuk mencapai persatuan dengan Tuhan. Dengan demikian, terjadilah perpaduan dua konsep, yakni konsep kebatinan Jawa dengan mistik Islam. Yang lebih terarah pada masalah ini adalah kisah dalam cerpen "Nostalgia". Di dalamnya diungkapkan bahwa hanya manusia yang menghargai hakikat Ketuhanan saja yang dapat mencapai keharmonian, yakni harmoni yang sesuai dengan prinsip Ketuhanan. Hal demikian terungkap dalam dialog antara Abimanyu (tokoh wayang) dengan seekor katak sebelum mereka menemui ajal dalam peperangan.
        Masalah lain yang disajikan Danarto mengenai kehadiran atau eksestensi kehidupan manusia terungkap dalam cerpen "Sandiwara atas Sandiwara." Di dalamnya diketengahkan bahwa sesuatu yang hadir pasti akan pergi. Karena itu, seperti dikatakan oleh tokoh Rutras bahwa sekali waktu manusia pasti akan kehilangan sesuatu yang paling dicintainya. Barangkali ini adalah kesadaran Danarto sebagai pengarang mengenai ketidaklanggengan sesuatu yang hadir, kecuali Tuhan, sebab Tuhan dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tak pernah hadir tetapi sekaligus selalu hadir.
          Begitu juga masalah kepastian atau ketidakpastian kebenaran hidup di dunia dalam cerpen "Asmaradana". Kisah dalam cerpen ini berkaitan dengan kepercayaan kaum Kristen. Tokoh Salome ingin memiliki kepala Yahya, sang pembaptis, sebab ia berniat untuk bertemu dengan Tuhan dengan cara mengutuk Tuhan. Tetapi, akhirnya ia menyadari bahwa ia tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Tuhan. Karena itu, ia akhirnya menyesal dan menyerah kalah. Dengan demikian, akhirnya dapat dinyatakan bahwa apabila dalam kehidupannya manusia tidak berjalan sebagaimana yang ditentukan Tuhan, manusia tersebut akan mendapatkan kutukan Tuhan dan diberi imbalan sesuai dengan perbuatannya, seperti diungkapkan dalam cerpen "Labyrint".
         Demikian agaknya pencarian Tuhan bagi Danarto sebab ia merasa bahwa eksistensinya amat jauh dari Tuhan sekaligus ingin mendekatkan diri pada-Nya. Mungkin, titik pangkal pemikiran Danarto adalah bahwa segala sesuatu yang ada, dan juga manusia adalah tidak mutlak adanya, artinya dari tidak ada menjadi ada, akhirnya kembali tidak ada. Itulah hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan.
         Arief Budiman pernah berkata bahwa kehadiran cerpen-cerpen Danarto adalah dalam situasi trance, atau mungkin ia menggunakan kesadarannya tetapi seolah ia betul-betul dapat berdialog dengan Tuhan. Artinya, barangkali ia memikirkan dengan sadar tetapi sesungguhnya seolah tidak sadar. Dalam kasus inilah, sebagai manusia Danarto mengembalikan segalanya ke dalam dirinya dan ini sekaligus untuk mendekatkan diri dengan Zat Yang Maha Tinggi. Namun, Zat Maha Tinggi ini sesungguhnya hanyalah sebuah simbol (chifer) sebab ini sesungguhnya mengandung arti yang lebih dari itu. Demikianlah konsep mistis dan magis Danarto yang sesungguhnya juga amat religius.
        Melalui cerpen-cerpen sebagaimana telah dibicarakan di atas tampak bahwa ada semacam pengongkretan pelajaran aliran kebatinan dalam bentuk kesusastraan. Dan di sini tampak seni oleh Danarto dipergunakan sebagai alat penerang bagaimana manusia menyatukan diri dengan Tuhan. Dan tema dalam cerpen-cerpen Danarto berkaitan dengan dunia kebatinan. Seluruh cerpennya bersifat alegoris, artinya semua tokoh dan peristiwa sekaligus latarnya harus dipahami dari personifikasi-personifikasi dan gagasan yang bersifat mistis dalam melihat kenyataan hidup, yakni kerinduan makhluk pada Zat Yang Maha Tinggi.
         Dari seluruh uraian di atas akhirnya dapat dinyatakan bahwa proses perjalanan manusia mencari Tuhan terlihat pada cerpen "Kecubung Pengasihan." Kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan terlihat pada cerpen "Asmaradana", yang di dalamnya sekaligus dapat dilihat tentang ketidaklanggengan kehidupan manusia, seperti pula tampak dalam cerpen "Nostalgia" dan "Rintrik". Sedangkan kehidupan yang masih dikuasai oleh nafsu jasmaniah karena pengaruh situasi sekeliling terlihat dalam cerpen "Godlob" dan "Asmaradana". Dengan keunikannya, sebagai sastrawan Indonesia, Danarto mendapatkan tempat tersendiri yang unik pula, seperti halnya Iwan Simatupang, Putu Wijaya, dan Budi Darma. ***
                                            Dimuat di Suara Karya, Minggu, 15 Juni 1986.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel