-->

Cerpen Pilihan Pembaca

Sejak 1992 Kompas telah menerbitkan 11 buku kumpulan “Cerpen Pilihan Kompas”. Setiap buku memuat sekitar 15 cerpen dan satu cerpen ditetapkan sebagai cerpen terbaik. Dan yang telah memetik kemenangan: Jujur Prananto (Kado Istimewa, 1992), Seno Gumira Adjidarma (Pelajaran Mengarang, 1993), Joni Ariadinata (Lampor, 1994), Kuntowijoyo (Laki-Laki yang Kawin dengan Peri, 1995; Pistol Perdamaian, 1996; Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan, 1997), Budi Darma (Derabat, 1999; Mata yang Indah, 2001), Motinggo Busye (Dua Tengkorak Kepala, 2000), Danarto (Jejak Tanah, 2002), dan Djenar Maesa Ayu (Waktu Nayla, 2003).
Publik sastra percaya bahwa program tahunan yang semula digagas oleh Afrizal Malna, Sutardji Calzoum Bachri, Ikranagara, dan Hamsad Rangkuti ini menerbitkan gairah baru bagi para kreator cerpen Indonesia. Selain itu juga memberi peluang bagi pembaca untuk mendapat cerpen-cerpen terbaik/bermutu. Dan koran-koran lain pun diharap berbuat hal yang sama, seperti yang dimulai koran Republika dengan antologi Pembisik-nya (2002). Cuma, tradisi semacam itu bukan tanpa resiko. Tak jarang resikonya boleh jadi menyesatkan.
Tidak lama setelah Kado Istimewa terbit (1992), terbangunlah semacam opini bahwa cerpen bermutu tak cuma lahir di Horison yang berlabel “majalah sastra”, tetapi juga di Kompas, Matra, Republika, dll yang sama sekali tak berpretensi menjadi koran/majalah sastra. Ketika Pelajaran Mengarang menyusul (1993) dan diikuti Lampor (1994), kehadiran “cerpen koran” dan terutama “Cerpen Koran Kompas” kian legitimate. Sebagian orang lalu menilai bahwa kegagahan Horison “luntur” dan “obor kemenangan” pun dipegang Kompas. Publik sastra pun percaya begitu saja dan Kompas kemudian diklaim sebagai “barometer” mutu cerpen Indonesia.
Tetapi, pada perkembangan berikutnya, ketika Kuntowijoyo menyabet kemenangan beruntun (1995, 1996, 1997), demikian juga Budi Darma (1999, 2001), banyak pihak, terutama dari kalangan cerpenis, terhenyak. Beberapa kritik pedas pun kemudian dilancarkan, salah satu di antaranya dari Saut Situmorang (Horison, November 2002). Dengan begitu, disadari atau tidak, opini publik serta-merta berubah dan kepercayaan/pemitosan terhadap “Cerpen (Pilihan) Kompas” pun goyah. Terlepas dari apakah ketidakpercayaan publik tersebut sebenarnya hanya karena mereka (terutama para cerpenis) tak mampu bersaing di Kompas atau bukan, yang jelas ada tiga persoalan pokok yang menjadi sorotan.
Pertama, disoroti bahwa nama-nama yang tampil dalam buku “Cerpen Pilihan Kompas” hanya itu-itu saja, padahal, dalam setahun Kompas memuat lebih dari 50 cerpen. Nama-nama yang muncul di Kompas Minggu pun hanya itu-itu pula, padahal, setiap minggunya (konon) redaksi Kompas diserbu sekitar 50—100 cerpen. Tak jarang dalam buku “Cerpen Pilihan Kompas” satu nama bahkan tampil dengan dua cerpen; dan tak jarang pula dalam setahun satu pengarang bisa tampil dengan dua-tiga cerpen di Kompas.
Meski Panitia Pemilihan Cerpen Kompas (2002) telah berkilah bahwa pemilihan itu tetap berpijak pada kualitas karya, bukan pada nama besar pengarangnya, tetapi di benak publik nampak masih tetap ada keraguan. Benar pula bahwa panitia telah mengemukakan data untuk meyakinkan publik, tapi banyak pihak bisa pula menunjukkan data-data lain yang simpulannya bisa berbeda. Pendek kata, alasan panitia itu belum mampu meyakinkan publik untuk tidak mengatakan bahwa pemilihan cerpen Kompas cenderung dominatif dan diskriminatif.
Kedua, disoroti bahwa reader yang ditunjuk mengulas cerpen terpilih tak bekerja serius dan acapkali mereka membuat generalisasi yang dangkal walau harus diakui ada beberapa yang menunjukkan kejeniusannya. Malahan “pesan sponsor” sering terlihat di dalamnya sehingga ulasannya “ngecap” seolah memang cerpen-cerpen itu yang terbaik. Padahal, publik sastra kita tak terlalu bodoh, dan memang tak semua cerpen yang masuk dalam buku “Cerpen Pilihan Kompas” bermutu tinggi. Malahan ada yang dengan tegas menyatakan “cerpen kayak begitu kok terpilih”.
Itulah sebabnya lahir persoalan ketiga. Bertolak dari keraguan publik itu keberadaan dewan juri kemudian dipertanyakan. Betul-betul mengerti sastra yang baik-kah mereka? Bahkan muncul pernyataan, mereka “cuma” para wartawan (bukan sastrawan atau ahli sastra) yang sehari-harinya bekerja dengan fakta (realitas empirik) yang secara substansial berbeda dengan fiksi (realitas imajiner). Walaupun, harus diakui, tidak semua yang menyebut dirinya ahli/pakar sastra mampu menilai karya sastra secara tepat, adil, dan bertanggung jawab.
Kalau begitu, poin apa yang mesti dicermati ulang? Barangkali saja model atau strategi pemilihan dan penilaiannya. Kita tahu bahwa dalam berbagai acara pemberian hadiah seni tingkat dunia (sastra, film, dll), pemilihan sekaligus penentuan pemenang diserahkan sepenuhnya kepada publik (pemirsa, pembaca). Di Indonesia pun sudah sering dilakukan strategi model ini, terutama dalam lomba baca puisi atau baca cerpen. Melalui strategi ini, selain lebih mempererat hubungan karya sastra dengan pembaca, tentulah akan dapat dipilih/disaring karya yang benar-benar bermutu. Walaupun, disadari pula bahwa strategi ini juga mengandung resiko, yaitu mutu sastra mengabdi pada selera pembaca (suatu ciri utama sastra pop).
Tetapi, apa salahnya jika pemilihan dan penentuan “Cerpen Pilihan Kompas” dilakukan oleh para “Pembaca (Cerpen) Kompas?” Saya kira hal ini tidak terlalu salah; bahkan perlu dicoba, tidak hanya oleh Kompas tapi juga koran-koran lain jika berniat memilih dan menerbitkan cerpen-cerpennya. Hal itu dapat dilakukan misalnya melalui penjaringan nilai semacam pooling. Hanya saja, siapa “pembaca” yang bisa mengikuti pooling dan berhak memberikan penilaian? Akan lebih afdol jika mereka adalah para siphisticated reader. ***

Dimuat MINGGU PAGI Minggu V Februari 2004


Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel