-->

FBMM: Membangun Kecerdasan Cara Berbahasa Pelaku Media

Pertengahan Desember 2009 lalu Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Provinsi DIY telah terbentuk. Pengurusnya pun telah resmi dilantik oleh Ketua Umum FBMM Pusat. Hal ini berarti forum yang mewadahi kiprah para pelaku media (wartawan, redaktur, editor, reporter, penyiar) dan para pengajar, pembina, peneliti, serta ahli bahasa ini dapat mulai bekerja. Diharapkan ke depan organisasi lintas profesi ini tidak hanya sekadar membentuk organisasi, tetapi benar-benar dapat membangun kecerdasan cara berbahasa pelaku media.
        Akankah FBMM mampu membangun kecerdasan para pelaku media dalam menggunakan bahasa? Harapan kita tentu demikian karena sesuai AD-ART tujuan dibentuknya FBMM agar para pelaku media dapat (1) menyamakan tata cara yang benar dalam hal penulisan --alfabet, ejaan, kosa kata, istilah, tata bahasa-- dan pelafalan di media massa, (2) menggiatkan pengunaan bahasa yang baik dan benar dalam media massa, dan (3) membantu mengembangkan bahasa Indonesia.
        Mengapa FBMM bertujuan demikian? Karena, sejak awal pendiriannya (1990-an) FBMM memang dimaksudkan untuk mengatasi kebingungan masyarakat pengguna bahasa (Indonesia). Sebab, selama ini di media massa telah terjadi banjir istilah asing dan istilah-istilah itu tidak diperlakukan secara cerdas oleh para pelaku media. Sering satu istilah ditulis dengan cara berbeda baik oleh media yang sama maupun media yang berbeda. Hari ini kata atau istilah ditulis begini, besok ditulis begitu, lusa ditulis dengan cara lain lagi. Itulah yang membuat masyarakat bingung. Padahal, maksudnya adalah sama. Jadi, intinya, di antara para pelaku media telah terjadi ketidakkonsistenan dalam berbahasa. Tegasnya, sampai hari ini para pelaku media kurang memerhatikan bahasa yang benar.
          Sering orang menganggap bahwa bahasa media massa tidak perlu menganut berbagai aturan kebahasaan karena media massa, lebih-lebih media massa umum seperti koran, memiliki prinsip tersendiri. Sesuai dengan ragam bahasa jurnalistik, prinsip yang dipegang oleh para pelaku media sering hanya terbatas pada faktor ini: singkat, padat, lugas, komunikatif, dan mudah dipahami. Dan mereka menganggap, kalau apa yang dimaksudkan telah diketahui pembaca, selesailah tugasnya. Padahal, mestinya, tidaklah sesederhana itu.
          Memang tidak salah kalau media massa memiliki prinsip dan ragam bahasa tersendiri. Dan itu telah menjadi sebuah keniscayaan yang diakui. Tetapi, yang kemudian menjadi salah ialah pelaku media sering mengingkari prinsip dan tidak menaati ketentuan yang seharusnya mereka taati. Dalam menerapkan prinsip penggunaan bahasa yang “singkat dan lugas” misalnya, tidak berarti dapat dengan mudah menghilangkan kata atau kelompok kata agar lebih pendek (singkat), tetapi logika bahasa (logika berpikir) harus tetap terjaga.
          Demikian juga dalam penerapan prinsip “komunikatif.” Prinsip ini tidak sekadar asal isi informasinya sampai kepada pembaca, tetapi harus diingat bahwa bahasa tulis memiliki perbedaan prinsipal dengan bahasa lisan. Struktur bahasa tulis menuntut kelengkapan (syarat minimal) unsurnya karena ketidakhadiran penulis dan pembaca, sedangkan bahasa lisan tidak. Sebab, kelancaran komunikasi lisan dibantu oleh konteks atau situasi karena kehadiran penutur dan pendengar.
          Satu hal yang patut dipertanyakan ialah tentang keyakinan pelaku media (wartawan, redaktur) terhadap terjadinya komunikasi yang benar. Benarkah masyarakat pembaca selama ini sudah menangkap dengan benar isi dan maksud yang dituangkan oleh para pelaku media dalam tulisan-tulisannya (berita, feature, tajuk, dll)? Dalam tulisan yang benar dan lengkap pun terkadang informasi tidak seratus persen dapat ditangkap dengan benar, apalagi dalam tulisan yang tidak benar. Hal itu berarti bahwa penggunaan bahasa yang benar menjadi sesuatu yang sangat penting bagi para pelaku media.
          Hanya saja, yang terjadi selama ini, masyarakat pembaca umumnya juga kurang paham apakah bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi itu benar atau tidak. Karena itu, yang kemudian terjadi, ketidakbenaran terus berulang, dan akibatnya, tanpa disadari, ketidakbenaran itu kemudian dianggap benar. Hal inilah yang selama ini luput dari perhatian kita (para pelaku media) sehingga muncul kesan (kenyataan) bahwa bahasa media massa kita kurang mencerdaskan.
          Akhirnya, di sinilah FBMM ditunggu peranannya. Melalui kegiatan seminar, sarasehan, lokakarya, dan diskusi secara rutin tentang penggunaan bahasa yang benar diharapkan para pelaku media dapat memperbaiki cara berbahasa yang mencerdaskan masyarakat pembaca. Pertanyaan kritisnya, dapatkah aktivitas rutin itu dibangun? Tentu saja bisa asal semua pihak (KR, Bernas, Kompas, Harjo, RRI, TVRI, UGM, USD, UNY, BBY, dan semua media massa Yogyakarta) memiliki komitmen yang sama. ***

Dimuat BERNAS, Selasa 26 Januari 2010

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel