-->

Masih Seputar Kritik Sastra Yogya: Telah Muncul Kesadaran tt Hakikat Kritik

Tirto Suwondo 
Dibandingkan pada masa Orla (baca KRM, 2/4/06), tradisi kritik sastra Yogya pada awal Orba hingga 1980 relatif lebih maju. Realitas ini tak hanya disebabkan semakin baiknya budaya tulis dan hadirnya sejumlah intelek dari perguruan tinggi. Tetapi juga disebabkan tradisi kritik yang dibangun STA sejak Pujangga Baru, Jassin/Teeuw pada 1950 dan awal 1960-an, dan Goenawan Mohammad/Arief Budiman vs MS Hutagalung cs dengan aliran Ganzheit--Rawamangun-nya pada akhir 1960-an, telah benar-benar mulai dipraktikkan.
       Terbukti, sejak itu, selain berkembang di perguruan tinggi lewat skripsi para mahasiswa sastra, kritik sastra juga berkembang di media cetak seperti Minggu Pagi (MP), Kedaulatan Rakyat (KR), Basis, Semangat, Pelopor, Suara Muhammadiyah (SM), Masa Kini (MK), dan Berita Nasional (Bernas). Hanya saja, para kritikusnya, --hal ini terjadi akibat mobilitas sosial yang tinggi pada 1950-an--, sebagian besar bukan asli Yogya, tapi dari berbagai daerah di Indonesia yang datang dengan tujuan menambah wawasan baik melalui pendidikan maupun sekadar hijrah untuk sementara.
          Pada masa ini konsep kritik yang telah dibangun para tokoh pada 1950-1960-an, baik akademis maupun nonakademis, ternyata berkembang secara berdampingan. Artinya, sampai kini kritik formal-objektif (judicial) terus dikembangkan di kalangan akademis, dan kritik totalitas-subjektif (impresionistik) juga terus dikembangkan/ditulis di media massa. Bahkan, dalam rangka mengembangkan kritik itu, ada upaya para akademisi mengubah kritik judicial menjadi impresionistik dan menyosialisasikannya ke media massa. Hal ini dilakukan dengan alasan media massa cetak lebih efektif dalam menjangkau khalayak pembaca.
          Maka, tak heran jika kritik karya para akademisi seperti Teeuw, Dick Hartoko, Kuntara Wiryamartana, Suripan Sadi Hutomo, Umar Kayam, Bakdi Sumanto, B. Rahmanto, Harry Aveling, Boen S. Oemaryati, Th. Koendjono, Andre Harjana, dll itu sering muncul di Basis dan Semangat. Sementara nama-nama di luar akademisi seperti Emha, Linus, Ragil Suwarno, dll yang kadang muncul di Basis dan Semangat juga sering muncul di KR, MP, Pelopor, MK, dan Bernas.
          Tradisi kritik sastra Yogya pada masa ini tampak juga didukung munculnya kelompok/grup/pusat pergaulan sastra seperti PSK (Persada Studi Klub) yang dimotori Umbu Landu Paranggi dkk di bawah naungan Pelopor Jogja di Jln Malioboro. Lewat rubrik "Persada" dan "Sabana" mereka mengembangkan karya-karyanya. Harian MK (sebelumnya bernama Mercu Suar) juga bertindak sama. Di bawah rubrik "Insani" Emha, Suparno S Adhy., Mustofa WH dll juga membentuk "Insani Club". Melalui komunitas itu mereka berdiskusi dan berkreasi sehingga karya-karyanya, termasuk kritik, dimuat di "Insani". Khusus puisi dimuat di "Insani", "Kulminasi", dan "Titian". Pada awal 1980-an, hal serupa dilakukan para penulis yang biasa mengirim karyanya ke rubrik "Renas" harian Bernas asuhan Linus Suryadi A.G.
          Lalu, siapa kritikus yang berperan pada awal Orba hingga 1980? Data menunjukkan, sebagian besar adalah nama-nama baru, dan sebagian nama-nama yang sudah muncul sebelumnya. Di MP 1970-an, muncul beberapa nama, antara lain, Aryasatyani (No. 3, 26 Apr 1970), Bang Aziz (No. 6, 7 Jun 1970), Ita Rahayu (No. 12, 21 Jun 1970), Zan Zappa Group (No. 3, 24 Apr 1977), MP/AM (No. 21, 28 Apr 1977), Arwan Tuti Artha (No. 21, 28 Agt 1977, No. 13, 29 Jun 1980),  Joko S. (No. 26, 2 Okt 1977), N.N. Sukarno (No. 29, 23 Okt 1977), Deded Er Moerad (No. 30, 30 Oktober 1977), Joko Santoso (No. 30, 30 Okt 1977), Hendro Wiyanto (No. 53, 5 Apr 1980 dan No. 9, 1 Jun 1980),  Pappi Eska (No. 3, 20 Apr 1980), Afauzi Safi Salam (No. 12, 22 Jun 1980), SB Tono, Noto Sunarto, Niesby Sabakingkin, Putu Arya Tirtawirya, Veven SP Wardana, Niesby (No. 16, 20 Jul 1980), Em Es (No. 17, 27 Jul 1980),  Tarseisius, Faruk HT, Albert P. Kuhon (No. 18, 3 Agt 1980), Heru Kesawa Murti (No. 22, 31 Agts 1980), Gendut Riyanto (No. 23, 7 Sept 1980), Arie MP dan Hendro Wiyanto (No. 24, 14 Sept 1980), M. Sutrisno (No. 27, 5 Okt 1980), Yudiono KS dan Tuti (No. 28, 12 Okt 1980), Retno D dan Edi Romadon (No. 29, 19 Okt 1980), Yuliani Sudarman (No. 34, 23 Nov 1980), Bambang Widiatmoko, Heru Kesawa Murti, Korrie Layun Rampan (No. 35, 30 Nov 1980), dan masih banyak lagi.
Di KR muncul nama-nama seperti yang menulis di MP. Selain nama-nama itu, dapat disebutkan, misalnya Linus Suryadi dengan karyanya "Chairil Anwar: Pengembara Monumental" (16 Mei 1978), "Suluk Awang Uwung Kuntowijoyo: Pitutur Ala Puisi Jawa" (19 Feb 1976), "Interlude Goenawan Mohammad: Gejala Puisi Indonesia Modern?" (Apr 1976), dan "Perumahan Wing Kardjo: Puisi Napas Pendek" (1979). Tiga karya ini kemudian dibukukan bersama sejumlah karya lain dengan judul Di Balik Sejumlah Nama (Gama Press, 1989) yang diberi pengantar A. Teeuw. Sementara di MK juga banyak muncul kritikus, di antaranya, Slamet Riyadi S. (18 Sept 1974); Ragil Suwarno Pragolapati (12 Febr 1979, 15 Jan 1979); Yunus Syamsu Budhi (10 Febr 1979); Ajie SM (13 Januari 1979); Emha Ainun Najib (9 Apr 1979); Marsudi, Asti (12 Feb 1979); Kecuk Ismadi (6 Jan 1979); Mustofa W. Hasyim (9 Mei 1979, 30 Jun 1979); Tarseisius (9 Jun 1979), dan masih banyak lagi seperti Rachmat Djoko Pradopo, Soekoso D.M., dan Linus Suryadi A.G.
Sementara di Basis 1970-an muncul nama yang sebagian besar berasal dari akademisi, antara lain, Bakdi Sumanto (Okt 1974, Mar 1975), Teeuw (Mei 1978, Jun 1978, Nov 1981), Dick Hartoko (Des 1973, Mei 1978), Ariel Heryanto (Mei 1978), B. Rahmanto (Mei 1978, Des 1979, Mar 1980, Nov 1981), Mochtar Lubis (Mar 1980), Andre Hardjana (1971), Umar Kayam (Juni 1979), St. Soelarto (Okt 1976), Sapardi Djoko Damono (Mar 1980), Harry Aveling (1972--1973, Feb 1974), Hila Veranza (Sept 1979),  Yunus Mukri Adi (Okt 1976), Ahar (Okt 1970), Th. Koendjana (Okt 1972), Emha Ainun Najib, Ragil Suwarno Pragolapati, Sutadi (1979), Linus Suryadi, dll.
Dalam Semangat --majalah yang berhubungan dekat dengan Basis-- banyak juga kritikus yang tampil, di antaranya, Mayon Sutrisno (Febr 1976), Julius Poer (Des 1971), Bakdi Sumanto (September 1971, Mar 1972, November 1972, Juni 1974, Okt 1974, Mrt 1975, Apr 1975, Mei 1975, Jun 1975, Jul 1975, Sept 1975,  Apr 1976, Mei 1976, Jun 1976, Agst 1976), Ragil Suwarno Pragolapati (Agst 1972, Agst 1980), Y. Supardjana (Des 1975), Mimosa Sekarlati (Mar 1976), Jakob Sumardjo (Apr 1975), J. Pandji (Feb 1969), B. Gde Winnjana (Mei 1972), Agus Surjono (Feb 1973), Niken Kusuma (Jan 1971), Semangat (Apr 1973), M.L. Stein (Agst 1976), dan T.H. Sugiyo (Mei 1976). Selain itu, kritik yang ditulis dalam wujud tulisan pendek dalam rubrik "Surat Pembaca", misalnya, tampak dalam Semangat edisi Des 1968, Sept 1970, Jun 1971, Okt 1971, Jan 1972, Mrt 1972, Mei 1972, Sept 1973, Mei 1980, Jun 1980, dan Agt 1980.
Di samping di MP, KR, MK, Basis, dan Semangat, para kritikus juga muncul di SM dan Pelopor. Di SM muncul Mohammad Diponegoro (Jul 1980), A. Hanafi M.A. (Jun 1968), T. Loekman (No. 3 dan 4 Thn. ke-56), Darwis Khudori (Apr 1975), S. Tirto Atmodjo (Jan 1973), S. Kartamihardja (Juni 1972), Joko Susilo (Oktober 1975), dan Tan Lelana (Januari 1973). Sementara kritikus di Pelopor sebagian besar adalah mereka yang tergabung dalam PSK pimpinan Umbu Landu Paranggi. Di antaranya, Umbu Landu Paranggi, Ragil Suwarno, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budi Santosa. Namun, kadang juga muncul nama dari luar PSK, misalnya Bambang Sadono SY dengan kritiknya "Kritik Sastra oleh Siapa Saja" (Pelopor, No. 23, 12 Okt 1978).
          Dilihat jenisnya, pada kurun waktu ini kritik impresionistik tetap mendominasi; hal ini disebabkan media publikasinya adalah media massa umum (populer, bukan media ilmiah) walau beberapa di antaranya berlabel “media kebudayaan”. Sebagai media umum, tulisan (kritik) yang dimuat dituntut memenuhi kriteria yang ditentukan media massa umum. Bahkan, kecenderungan demikian diperkuat oleh adanya kritik yang dipublikasikan di rubrik “surat pembaca”, “kronik”, “resensi buku”, “dari redaksi”, "varia budaya", “skets masyarakat”, dan sejenisnya, yang sesungguhnya rubrik-rubrik itu tidak dimaksudkan sebagai ruang kritik sastra.
      Sementara, dilihat orientasinya, karya-karya kritik itu menunjukkan variasi pendekatan; dalam arti kritik mereka tak hanya menyoroti sistem makro (pengarang, penerbit, pengayom, pembaca/penikmat, dan kritik itu sendiri), tapi sebagian besar membahas sistem mikro sastra (puisi, cerpen, novel, dan drama). Hal ini menunjukkan, pengertian dan hakikat bahwa "kritik sastra adalah kritik atas karya sastra" sudah semakin disadari oleh para kritikus.
Begitulah, antara lain, denyut kritik sastra pada awal Orba (hingga 1980) khususnya dalam media massa cetak yang terbit di Yogya. Nama-nama besar seperti Teeuw, Umar Kayam, Bakdi Sumanto, Sapardi Djoko Damono, Mochtar Lubis, Jakob Sumardjo, B. Rahmanto, Emha Ainun Najib, Linus Suryadi A.G., Korry Layun Rampan, Faruk, dan masih banyak lagi itu yang pada dekade selanjutnya (1980-an dan 1990-an) masih terus mengembangkan dunia kritik sastra di Yogya, di samping muncul nama-nama baru.
Hanya saja, sebagian besar dari mereka adalah juga pengarang (penyair, cerpenis, novelis) sehingga tak jelas batasan kritikus dan pengarang. Biasanya batasan itu akan menjadi jelas jika dilihat dari jumlah karyanya; kalau jumlah karya kritiknya lebih banyak dan menonjol, ia cenderung disebut kritikus, dan jika jumlah karya kreatifnya lebih banyak, ia cenderung disebut pengarang. Tapi, tidak tertutup kemungkinan seseorang akan mendapat julukan ganda (pengarang sekaligus kritikus). *** 
Dimuat Kedaulatan Rakyat Minggu 21 Mei 2006

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel