-->

Penghargaan Bahasa/ Sastra dan Harapan terhadap Pemda

Perlukah penghargaan selalu diberikan kepada bahasa dan sastra (Indonesia dan Jawa) di Yogyakarta? Bila memang perlu, siapa yang paling berhak memberikannya? Bagaimana dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, Taman Budaya, Perpustakaan Daerah, atau Perguruan Tinggi? Bukankah Permendagri No. 40 Tahun 2007 yang disusul UU No. 24 Tahun 2009 telah menyarankan di era otonomi ini Pemda wajib pula memelihara bahasa dan sastra di daerah masing-masing? Sederet pertanyaan ini tentu tak cuma memerlukan jawaban, tetapi juga perlu tindakan nyata. Hanya saja, sampai hari ini, keadaan masih adem-ayem, sepi-sepi saja.
          Di tengah sunyi senyap inilah Balai Bahasa Provinsi DIY tahun ini (2013) kembali hadir untuk memberikan penghargaan kepada bahasa dan sastra di Yogyakarta. Penghargaan ini rutin diberikan setahun sekali (sejak 2007) dan kini memasuki tahun ke-7. Tahun ini penghargaan bahasa akan diberikan kepada pengguna bahasa terbaik (di Radio dan Tata Naskah Dinas SMK) dan penghargaan sastra akan diberikan kepada buku sastra (puisi, cerpen, novel, drama, dan cerita anak) karya pengarang Yogya dan diterbitkan penerbit Yogya. Selain itu, tahun ini penghargaan juga akan diberikan kepada tokoh penggiat bahasa dan sastra.
          Ada beberapa alasan mengapa penghargaan bahasa dan sastra di Yogya perlu secara rutin diberikan. Pertama, memberi semangat kepada masyarakat agar tetap bersikap positif dan senantiasa menggunakan bahasa dengan baik, di samping memberi semangat kepada penulis/pengarang Yogya (penyair, cerpenis, novelis, penulis drama) agar lebih giat lagi berkarya yang tak hanya mempertimbangkan produktivitas tetapi juga kualitas. Kedua, membangun komitmen seluruh organisasi (instansi) dan seluruh penerbit di Yogya agar tetap concern memperhatikan dan menerbitkan buku-buku bahasa dan sastra karya pengarang Yogya. Ketiga, merangsang lahirnya para pengarang/penulis baru. Keempat, memberikan alternatif bacaan yang bermutu (baik) bagi masyarakat di Yogya.
          Selain alasan tersebut, secara makro pemberian penghargaan ini juga didorong oleh niat mempertahankan, menumbuhkan, dan memperkuat tradisi berbahasa dan bersastra di Yogya yang telah dibangun para pujangga melalui tradisi tulis keraton sejak awal abad XVIII. Semua itu berkait dengan upaya memupuk citra Yogya sebagai kota budaya (yang istimewa) sekaligus sebagai pusat budaya (sastra) yang diharapkan kelak melahirkan produk budaya bernilai tinggi yang mampu membangun peradaban yang lebih mengedepankan aspek mental-spiritual dan humanis-religius.
          Meski belum mengalami peningkatan drastis, tujuan memberi semangat kepada institusi agar menggunakan bahasa yang baik dan kepada pengarang agar lebih giat lagi menulis serta tujuan membangun komitmen penerbit agar tetap menerbitkan buku-buku sastra Yogya telah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Hal itu terlihat, ketika penghargaan diberikan pertama pada 2007, buku-buku (bahasa dan) sastra (terbitan 2006) yang masuk penilaian hanya beberapa judul saja, tetapi kemudian, dari tahun ke tahun jumlah itu kian bertambah. Hanya saja, memang, khususnya buku sastra, belum pernah lebih dari 25 judul per tahun. Diharapkan pada tahun ini jumlah buku yang masuk akan lebih banyak lagi.
          Dari karya-karya yang masuk penilaian, jumlah terbanyak ditempati oleh jenis novel. Kemudian disusul oleh cerpen dan puisi. Sementara, sejak 2007 hingga 2011, tidak ada karya (naskah) drama. Hal ini menandai jenis novel menempati posisi penting dalam konstelasi sastra Yogya, sedangkan drama tak mendapat tempat sama sekali. Tidak diketahui secara persis apakah penerbit Yogya tidak mau menerbitkan drama atau memang pengarang Yogya tidak ada yang menulis karya drama. Tetapi, satu hal yang menggembirakan ialah dari tahun ke tahun selalu muncul pengarang baru.
          Namun, satu hal yang sampai hari ini belum mendapat perhatian ialah tujuan untuk memberikan alternatif bacaan (bahasa dan) sastra yang bermutu bagi siswa (SLTP/SLTA). Hal ini terlihat dari tidak adanya reaksi dari pihak-pihak terkait; katakanlah Pemerintah Daerah c.q. Dinas Pendidikan atau Perpustakaan Daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Padahal, harapan besar dari penyelenggaraan penghargaan bahasa dan sastra ini ialah buku-buku yang terpilih (terbaik) kemudian dijadikan buku bacaan “wajib” bagi siswa di sekolah.
          Mengapa buku itu penting untuk bacaan siswa di Yogya? Tak lain karena buku itu ditulis oleh pengarang Yogya yang tentu dengan semangat ke-Yogya-annya. Melalui buku bacaan sastra Yogya itu setidaknya siswa akan mendapat gambaran tentang berbagai hal yang berkait dengan budaya dan nilai-nilai lokalitas-spiritualitas (Yogya). Ambillah satu contoh, misalnya novel Rumah Cinta karya Mustofa W Hasjim (penerima penghargaan 2009).
          Buku (novel) itu ditulis oleh pengarang asli Yogya (Kotagede) dan berbicara tentang aspek-aspek spiritual di balik peristiwa gempa bumi yang melanda Yogya pada 27 Mei 2006. Bahkan novel itu tidak sekadar berisi rekaman dokumentasi fakta-fakta yang terjadi pada saat gempa, tetapi juga mengurai kegetiran hidup yang dirasakan oleh sebagian masyarakat yang menjadi korban gempa. Dan yang lebih penting lagi, novel ini mencoba memberikan alternatif solusi, menawarkan hal-hal yang lebih dalam di balik peristiwa dan fakta yang terjadi, dan menyarankan betapa pentingnya memperhatikan nilai-nilai dan makna kemanusiaan.
          Nah, bukankah buku (novel) semacam itu penting untuk bacaan siswa? Paling tidak, setelah membaca (mengapresiasi) novel itu, siswa akan lebih memahami arti hidup ini dan dapat memetik pelajaran yang menyadarkan nurani dan rasa kemanusiaannya: betapa hidup ini pahit dan karenanya harus diperjuangkan dengan penuh keimanan. Walau agak berbeda, pelajaran yang sama juga dapat dipetik dari novel Mahabbah Rindu (penerima penghargaan 2008) karya Abidah El Khalieqy. Seperti halnya novel Rumah Cinta yang berpretensi sebagai Pembangkit Semangat, novel Mahabbah Rindu juga berpretensi sebagai “Pencarian Kebenaran Iman.” Hal serupa juga tampak pada buku kumpulan cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (penerima penghargaan 2010) karya Agus Noor dan novel Sang Nyai (penerima penghargaan 2012) karya Budi Sardjono.
          Untuk itulah, tidak salah jika buku-buku “penerima penghargaan” itu pantas menjadi bacaan penting bagi siswa (SLTP/SLTA) di Yogya. Maka, tidak salah pula jika kegiatan penghargaan sastra ini ditindaklanjuti oleh Pemda dengan cara disertakannya karya pemenang itu sebagai salah satu buku terpilih ketika ada (proyek) pengadaan (penerbitan) buku untuk sekolah. Tindak lanjut ini penting sebagai bukti keseriusan Pemda (bidang pendidikan) dalam mewujudkan generasi yang berkarakter dan bermartabat. Bukankah sampai hari ini kita tetap yakin bahwa sastra merupakan salah satu dari tiga jalan “pencarian kebenaran” selain filsafat dan agama? ***
Dimuat harian Bernas Jogja, 31 Juli 2013.
 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel