-->

Catatan Kecil Buat FKY XV (2003)

          Harus diakui FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) yang diadakan rutin setahun sekali (sejak 1989) setiap tanggal 7 Juni hingga 7 Juli yang kini (2003) sudah sampai ke-15 kali adalah milik kita bersama, pemerintah beserta seluruh masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak awalnya, bahkan sampai sekarang, FKY digagas dengan idealisme dan semangat kebersamaan. Latar belakang serta cita-citanya pun sederhana: “lewat wahana seni diharapkan terbangun sebuah harmoni dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Yogyakarta”.
         Mengapa FKY diselenggarakan? Setidaknya ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan. Pertama, Yogya adalah kota seni-budaya. Maka, agar tetap eksis dan legitimate sebagai kota seni-budaya, Yogya perlu melakukan aktualisasi dan reaktualisasi diri terus-menerus sehingga festival seni-budaya perlu diselenggarakan. Kedua, Yogya adalah kota atau daerah tujuan wisata. Agar Yogya tetap diminati para wisatawan, maka aktualisasi seni-budaya itu dikemas dalam bentuk festival. Mengapa festival? Karena, festival adalah pesta rakyat (carnival), yakni pesta yang digelar di tempat-tempat umum dan dapat dinikmati semua orang, tidak terkecuali para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Ketiga, Yogya adalah gudang (pusat) aktivitas dan kreativitas seni dan budaya. Agar para seniman dapat mempertunjukkan hasil kreasi dan inovasi seninya kepada khalayak, kegiatan festival sebagai wahana sosialisasinya pun perlu diselenggarakan. Keempat, Yogya adalah kota yang masyarakatnya tetap menjunjung tinggi estetika dan tata nilai kebaikan, kejujuran, dan keluhuran. Karena itu, kekayaan seni-budaya yang diyakini mengandung nilai-nilai estetik dan ekstraestetik (etika, sosial, religius, dll) itu perlu terus dikembangkan, disinergikan, dan dilestarikan.
Kelima, Yogya adalah kota pendidikan, pelajar, dan mahasiswa. Agar proses aktualisasi dan reaktualisasi seni-budaya itu tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar dan juga tidak menimbulkan disharmoni, maka penyelenggaraan festival kesenian pun dipilih pada masa-masa liburan. Keenam, seperti halnya masyarakat daerah-daerah lain, masyarakat Yogya pun tidak luput dari stres berat akibat himpitan sosial, politik, dan ekonomi, sehingga mereka pun membutuhkan hiburan (gratis) untuk menepis beban dan kesumpekan yang mendera.
Barangkali masih banyak alasan lain yang dapat dikemukakan berkait dengan keberadaan FKY. Tetapi, enam hal di atas cukup bagi kita untuk tetap memandang FKY itu penting, baik dari segi ideologis maupun sosio- kultural. Karena itu, kritisisme dan pro-kontra yang tak pernah surut setiap menjelang dilaksanakan FKY musti dicermati sebagai sebuah cermin untuk melihat realitas (kekurangan-kekurangannya). Hal ini tentu menjadi “pe er” bagi siapa pun yang jadi panitia, selain jadi agenda penting yang perlu dibahas oleh Pemerintah Daerah (Bappeda, Dewan Kesenian/Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) beserta berbagai lembaga penelitian di perguruan tinggi, LSM swasta, dan DPRD baik provinsi, kota, maupun kabupaten untuk menyempurnakan program FKY di masa-masa datang.
           Tulisan ini tidak bermaksud mempersoalkan keberadaan FKY atau turut larut ke dalam pro-kontra yang terjadi, tetapi sekadar ingin mengajukan beberapa catatan yang mungkin bisa jadi bahan renungan. Untuk itu, ada baiknya kita terlebih dulu membuka referensi untuk memperjelas pengertian beberapa kata/istilah yang kemudian membentuk nama “Festival Kesenian Yogyakarta (FKY)”.
           Dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997:276) bahwa istilah festival antara lain berarti “hari atau pekan gembira dalam rangka peringatan peristiwa penting dan bersejarah”. Selain itu, festival juga berarti “pesta rakyat”. Sementara itu, istilah kesenian artinya “perihal seni” atau “keindahan” (KBBI, 1997:915). Dan cabang yang tercakup ke dalam lingkup kesenian itu cukup beragam, di antaranya seni bangunan, seni budaya, seni drama, tari, sastra, lukis, pahat, rupa, ukir, suara, sungging, dll. Sedangkan kata Yogyakarta jelas menunjuk pada daerah tertentu, yaitu Yogyakarta dan sekitarnya (DIY).
             Dari pengertian tersebut jelas bahwa FKY memfokuskan sasarannya pada publik. Artinya, FKY tidak lain ditujukan kepada masyarakat luas, tanpa pandang tua atau muda, besar atau kecil, laki atau perempuan, sebab siapa pun yang berada di Yogya punya hak yang sama. Sementara itu, ungkapan “hari atau pekan gembira” berarti dalam waktu tertentu (mungkin sehari, sepekan, sebulan, dst) FKY mengajak publik untuk bergembira; hal ini berarti bahwa orang atau masyarakat di Yogya diminta melepaskan (barang sejenak) segala bentuk beban berat yang mungkin menimpa atau menghimpit kehidupan sehari-hari.
             Hal itu dipertegas oleh kata festival yang berarti “pesta rakyat”, yaitu suatu pesta yang di dalamnya tergambar adanya perilaku carnival. Menurut sarjana Barat, Mikhail Bakhtin namanya, perilaku carnival adalah perilaku yang mencoba memperlakukan “dunia” sebagai milik semua orang sehingga mereka (siapa pun yang menghuni “dunia” itu) dapat menjalin kontak atau dialog secara bebas, akrab, tanpa dihalangi tatanan, dogma, atau hierarki sosial. Perilaku semacam itu hanya mungkin terjadi dalam lokasi carnival, yaitu lokasi atau tempat-tempat umum yang memungkinkan semua orang (tanpa kecuali) bisa datang dan menikmatinya.
            Itulah sebabnya, FKY lebih tepat diberi pengertian sebagai sebuah “pesta” yang diselenggarakan di lokasi atau tempat-tempat umum; yang memperlakukan berbagai genre kesenian yang terdapat di Yogya (lukis, sastra, drama, tari, pahat, rupa, ukir, musik, sungging, dll, baik tradisional maupun modern) sebagai subjek sekaligus objek perhatian; dan tolok ukurnya ialah dapat dihadiri dan dinikmati oleh siapa pun (yang berada di Yogyakarta) karena pada intinya kegiatan semacam itu mengajak semua orang untuk bergembira.
             Nah, yang jadi pertanyaan sekarang, dalam kaitan dengan FKY XV, sudahkah konsep semacam itu terimplementasikan? Terus terang saya tidak tahu persis kegiatan apa saja yang hendak digelar FKY. Tetapi, sejarah telah mencatat, kegiatan-kegiatan FKY sebelumnya dan mungkin juga FKY tahun ini belum seluruhnya terarah pada bentuk “pesta”. Memang, beberapa kegiatan yang digelar telah memungkinkan semua orang bisa hadir dan menikmatinya, misalnya kegiatan pentas seni (ketoprak, wayang, drama, tari, baca puisi, musik, dll), pameran dan bursa (lukis, kerajinan, foto, buku, dll), dan karnaval atau arak-arakan (andong, becak, dll).
          Tetapi, tampak masih banyak agenda kegiatan FKY yang digelar secara eksklusif, hanya memungkinkan dihadiri kelompok peminat tertentu, dan diselenggarakan di tempat non-carnival. Katakanlah, lokakarya, seminar atau diskusi seni di perguruan tinggi atau instansi-instansi. Jelas bahwa kegiatan itu tidak mencerminkan suatu pesta yang dimaksudkan untuk membangkitkan kegembiraan publik. Lebih-lebih itu juga jauh dari harapan jika dikaitkan dengan upaya menarik minat publik untuk mengapresiasi karya seni atau menarik minat wisatawan terhadap hasil kreasi seni.
              Mestinya, seni dalam kegiatan festival bukan dikemas dalam bentuk diskusi, seminar, atau pelatihan-pelatihan, tetapi lebih terarah pada bentuk pertunjukan, pameran, atau sosialisasi seni (boleh juga perlombaan) kepada publik di tempat-tempat umum yang strategis (alun-alun, hotel, kompleks restoran, pusat perbelanjaan, arena pariwisata, dll). Sementara kegiatan diskusi, seminar, atau pelatihan-pelatihan seni ada forum dan waktunya sendiri, bukan diselenggarakan pada saat festival kesenian. Sebab kegiatan (seminar dll) itu lebih berupa arena berpikir ketimbang arena penikmatan seni dan hiburan.
              Pertanyaan berikutnya adalah: sudahkah seluruh aspek seni tercover ke dalam pesta FKY? Kita tahu di Yogya ada banyak padepokan (ketoprak, wayang, dagelan, dll), sanggar seni (lukis, patung, pahat, ukir, sungging, tari, kerajinan perak, keramik, dll), dan kantong-kantong seni (sastra, teater, macapatan, fotografi, dll) baik tingkat anak-anak, remaja, maupun dewasa yang siap tampil menyosialisasikan hasil kreasi seninya. Kalau semua sudah terakomodasi, tentu tidak mungkin terjadi beberapa pihak yang merasa punya hak tetapi tidak dilibatkan (Bernas, 11/5/2003).
              Hanya saja, itu memang tak mudah dilakukan. Sebab sarana dan infrastruktur pendukungnya harus kuat. Dan dana 200 juta (bagi FKY XV) tentulah jauh dari cukup. Tapi, jika dilihat kepentingannya, utamanya bagi legitimasi identitas serta idealisme Yogya, tak ada salahnya jika porsi APBD digemukkan. Tentu saja, ini mustahil jika tanpa ada program sinergis jangka pendek dan panjang. Dan tampaknya program ini selalu jadi masalah FKY selama ini: disusun mendadak sesuai dana yang ada, bukan dirancang secara matang untuk menggali dana.
            Selain itu perlu ada “panitia tetap” (bukan berganti setiap tahun) yang profesional dan kredibel beserta “tim sukses bermata elang” yang mampu membidik peluang untuk kerja sama. Kita tidak perlu merasa naif untuk merangkul kalangan bisnis. Terbukti banyak padepokan atau sanggar kreatif mati tanpa adanya sumber daya dan dana. Lagi pula, bukankah karya seni kita telah berubah menjadi komoditas industri? Selain itu, adakah andalan lain bagi dunia pariwisata Yogya selain karya-karya seni dan budaya?
             Demikian catatan kecil buat FKY XV dan juga buat FKY di masa-masa datang. Harapan kita FKY tidak menjadi penyulut api friksi antarseniman atau antara seniman dan birokrat, tetapi benar-benar bermakna signifikan bagi Yogya seperti yang diharapkan para pendahulu ketika menetapkan “kelahiran” Pemerintah Kota Yogya. Bukankah sejak awal FKY memang dimaksudkan sebagai sebuah pesta gembira untuk menyambut peristiwa bersejarah: Hari Jadi Pemkot Yogya? ***


Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel