-->

Kembalinya Mahasiswi High Class ke Jalan Tuhan (Ulasan Buku)

        Yogya sebenarnya kota kecil, tapi kota ini sungguh sangat istimewa, dan keistimewaannya melebihi kota mana pun di Indonesia. Tak percaya? Lihatlah! Para orang tua di kota Sabang sebelah Barat (Sumatra) sana, hingga di Merauke (Irja) di sebelah Timur sana, tidak hanya membayangkan Yogya sebagai kota yang indah karena wisata alam dan seni-budayanya, tapi juga di kota inilah putra-putri mereka bakal bisa menimba ilmu apa pun sesuai kehendaknya. Dan para orang tua tak khawatir kalau-kalau anaknya tersesat atau terjerumus, dan mereka pasti akan merasa aman, sebab Yogya dikenal sebagai kota yang masyarakatnya “dewasa” karena semua berpendidikan.
            Tetapi, benarkah begitu? Ternyata tidak. Yogya tidaklah seperti yang dibayangkan. Yogya bukanlah jaminan masa depan. Yogya tidak berbeda dengan kota-kota lain. Soal pengemis, penjahat, koruptor, dan pelacur, dari kelas teri hingga kelas tinggi, di Yogya banyak. Bahkan, soal pelacur, bukan hanya terdiri janda atau ibu rumah tangga saja, tetapi juga pelajar dan mahasiswa. Dan ini bukan isapan jempol belaka. Bukankah kita dengar, Iip Wijayanto, da’i muda kharismatik, pernah membuat survei kecil-kecilan, dan hasilnya menunjukkan lebih dari 95% mahasiswi Yogya sudah tidak lagi perawan?
            Itulah pembaca, apa yang bakal terbayang tentang Yogya manakala kita selesai membaca novel Merpati Biru karangan Achmad Munif, mantan jurnalis Yogya Post, ini. Novel ini memang tidak mengungkap bagaimana lekuk-liku Yogya yang bermasyarakat multi-etnis, multi-budaya, lebih-lebih tentang perempuan dan wanita-wanita pelajar/mahasiswi Yogya. Novel ini hanyalah mengungkap sisi gelap seorang mahasiswi psikologi di Yogya, bernama Ken Ratri, berasal dari Mojokerto (Jatim), yang karena ayahnya dipenjara dan ibunya masuk rumah sakit jiwa, ia nyambi menjadi “wanita panggilan” kelas tinggi (high class) di Yogya.
            Tetapi, dari sisi ini, nampak pengarang berhasil menyajikan gambaran bahwa sebenarnya tidak semua mahasiswa, pejabat, bahkan dosen-dosen perguruan tinggi di Yogya, berperilaku baik. Banyak juga dari mereka yang karena mentalnya, atau karena kekuasaannya, mencoba memanfaatkan kelehaman dan keterjepitan orang lain. Dan sekali lagi, ini bukan isapan jempol belaka, sebab penulisan novel ini diilhami pemberitaan (peristiwa nyata) di media massa yang beberapa tahun lalu sempat menghebohkan, yaitu tentang mahasiswi yang nyambi jadi “perempuan panggilan” yang disebut “merpati biru”.
            Begitulah pembaca, kisah novel ini. Sebenarnya, novel ini ber-ide besar dan menarik. Hanya sayangnya, ia terlalu terpaku pada tendensi, terjebak pada kepentingan kisah belaka, sehingga kisah ini tidak mampu menyodok batin, tidak menggetarkan nurani. Sebagai contoh, betapa mudah Ken Ratri “si merpati biru” lepas dari germo-nya, padahal, kalau seseorang sudah terperangkap dalam “jaringan mafia seksual” macam itu, ia amat sulit lepas darinya. Lagi, betapa mudah ia kembali ke jalan Tuhan dalam waktu singkat, padahal “dunia itu” telah dijalaninya bertahun-tahun dan telah menjadikannya kaya (rumah mewah dan mobil). Sebab, biasanya, seseorang akan berbalik 180 derajat jika ia mengalami atau tertimpa “peristiwa besar” yang benar-benar membuat ia harus mengambil langkah pasti. Itu hanya beberapa contoh, dan contoh-contoh lain masih banyak.
            Namun demikian, ini semua bisa dimaklumi karena memang begitu ciri umum novel populer: ringan, mementingkan kisah (cerita), dikuasai oleh tendensi, tanpa perenungan yang dalam, ingin cepat selesai, dan yang terpenting membahagiakan pembaca. Kendati begitu, bukan berarti ini tidak menarik, sebab bagaimanapun juga, novel ini menarik, terutama bagi muda-mudi dan ibu rumah tangga. Dan yang perlu dicatat adalah bahwa novel ini cocok buat sinetron. Syukur-syukur, pengarangnya, Mas Munif, sudah menyiapkan skenario dan menawarkannya ke televisi.
            Sebagai catatan akhir, kalau novel ini hendak dicetak ulang (ke-4 dan seterusnya) --karena saya membayangkan novel ini laris—agaknya perlu ada koreksi serius dari pihak editor/korektor. Sebab ada ketidakkonsistenan penulisan nama (tokoh). Bukalah, coba, halaman 168, di situ ditulis nama Pak Gunadi. Tetapi, di halaman 223, ditulis Pak Subandi. Padahal, di dalam kisah itu, yang dimaksudkan adalah nama satu orang, yaitu suami Bu Riama. Bukankah itu kekeliruan yang menyesatkan? Dan kalau memang ganti nama, kapan bancakan-nya? ***

Judul Buku               : Merpati Biru

Pengarang                 : Achmad Munif
Penerbit                     : Navila Yogyakarta
Cetakan                      : Pertama (2000), Kedua dan Ketiga (2002)
Tebal                          : 282 halaman

Berlangganan update artikel terbaru via email:

TULISAN TERPOPULER

CARI JUGA DI LABEL BAWAH INI

Antologi Cerpen (59) Antologi Esai (53) Penelitian/Kajian Sastra (43) Antologi Puisi (40) Cerita Anak (25) Penelitian/Kajian Bahasa (25) Sastra Jawa Modern (20) Sastra Indonesia-Jogja (14) Antologi Drama (13) Budi Darma (13) Ulasan Buku (13) Kritik Sastra (12) Proses Kreatif (12) Esai/Kritik Sastra (11) Pembelajaran Sastra (11) Kamus (10) Pedoman (10) Mohammad Diponegoro (9) Prosiding Seminar Ilmiah (9) Antologi Features (8) Cerita Rakyat (8) Jurnal (7) Membaca Sastra (7) Religiusitas Sastra (7) UU Bahasa (7) Antologi Artikel (5) Bahan Ajar (5) Kongres Bahasa (5) Nilai-Nilai Budaya (5) Bahasa/Sastra Daerah (4) R. Intojo (4) Seri Penyuluhan Bahasa (4) Sistem Kepengarangan (4) Telaah Dialogis Bakhtin (4) Ahmad Tohari (3) Antologi Biografi (3) Antologi Dongeng (3) Danarto (3) Ensiklopedia (3) Gus Tf Sakai (3) Konsep Nrimo dan Pasrah (3) Korrie Layun Rampan (3) Pascakolonial (3) Penghargaan Sastra (3) AA Navis (2) Antologi Macapat (2) Dinamika Sastra (2) Festival Kesenian (FKY) (2) Film/Televisi Indonesia (2) Glosarium (2) Iblis (2) Kuntowijoyo (2) Majalah Remaja (2) Novel Polifonik (2) Pemasyarakatan Sastra (2) Sastra Jawa Pra-Merdeka (2) Seno Gumira Adjidarma (2) Telaah Intertekstual (2) Umar Kayam (2) Abstrak Penelitian (1) BIPA (1) Bahan Ajar BIPA (1) Budaya Literasi (1) Cermin Sastra (1) Education; Article (1) Ejaan Bahasa Jawa (1) Etika Jawa (1) FBMM (1) Gerson Poyk (1) Herry Lamongan (1) Iwan Simatupang (1) Jajak MD (1) Jaring Komunikasi Sastra (1) Kaidah Estetika Sastra (1) Karier Tirto Suwondo (1) Karya Tonggak (1) Kebijakan (1) Motinggo Busye (1) Muhammad Ali (1) Muryalelana (1) Novel (1) Olenka; Budi Darma; Bakhtin (1) Posisi Teks Sastra (1) Puisi Tegalan (1) Putu Wijaya (1) Salah Asuhan (1) Sastra Balai Pustaka (1) Sastra Non-Balai Pustaka (1) Sastra dan Imajinasi (1) Sastra dan ORBA (1) Sastra dlm Gadjah Mada (1) Sejarah Sastra (1) Studi Ilmiah Sastra (1) Syamsuddin As-Sumatrani (1) Teater Modern (1) Telaah Model AJ Greimas (1) Telaah Model Levi-Strauss (1) Telaah Model Roland Barthes (1) Telaah Model Todorov (1) Telaah Model V Propp (1) Telaah Pragmatik (1) Telaah Sosiologis (1) Telaah Stilistika (1) Teori Sastra (1) Teori Takmilah (1) Turiyo Ragil Putra (1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel